Hal ini tercermin dari jumlah investor dan transaksinya.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mengungkapkan transaksi kripto di Indonesia mencapai Rp859,4 triliun pada 2021. 

Nilai ini meningkat 1.222,84% dibandingkan tahun 2020 di mana transaksi kripto dalam setahun mencapai Rp64,9 triliun.

"Peningkatan [transaksi] kripto mencapai puncaknya pada bulan April dan Mei 2021," ujar Kepala Bappebti Indrasari Wisnu Wardhana, saat rapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (24/3/2022).

Dari sisi investor, hingga 2021 sudah terdapat 11,2 juta investor kripto. Pada Februari 2022 mencapai 12,4 juta investor kripto bertambah 532.102 investor sejak akhir 2021. Adapun total transaksinya mencapai Rp83,3 triliun.

Saat ini, terdapat 18 calon pedagang fisik aset kripto yang terdaftar di Bappebti. Ada satu yang dibekukan. Di antaranya adalah Indodax, Tokocrypto, Nanoinvest, Incrypto, Koinku, Luno, Pintu, Rekeningku, Bitocto, Upbit hingga Zipmex.

Pesatnya minat masyarakat pada kripto ini sudah mengalahkan investor pasar modal. Hal ini terlihat dari jumlah investornya. 

Bursa Efek Indonesia mencatat pada akhir 2021 ada 7,48 juta investor pasar modal. Angka ini meningkatkan 7 kali lipat dibanding 2017.

Namun dari sisi transaksi masih kalah. Total kapitalisasi pasar pasar modal tanah air mencapai Rp8.277 triliun.