Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengakui, menurut data yang tercatat sampai akhir Januari 2022, utang Indonesia kini mencapai mencapai Rp 6.919,15 triliun.

Jumlah tersebut mengalami penambahan Rp10,28 triliun dibandingkan bulan sebelumnya atau Rp686,01 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Jika tidak utang, maka hal-hal tersebut akan sulit dihentikan. Bukan hanya Indonesia, banyak negara lain yang juga membutuhkan utang demi menjaga ekonominya dari hantaman pandemi," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (22/3/2022).

Menurut Sri Mulyani, utang Indonesia tersebut juga demi menyelamatkan rakyat Indonesia.

"Kita berutang ini semata-mata demi menyelamatkan masyarakat, baik dari segi ekonomi dan sosial, terutama melihat situasi yang kita hadapi," bebernya.

Karena kalau tidak berutang justru bisa mengancam kesehatan masyarakat yang kini masih di tengah pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Meski demikian, dia juga menyebut kalau utang yang dimiliki Indonesia ini lebih terkendali dibanding negara lain.

"Ini dapat dilihat dari defisit anggaran yang sudah turun perlahan dan kembali di bawah 3%. Jadi kenapa utang? karena kita menerima penerimaan saat ekonomi naik lagi. Tahun ini 2 bulan pertama penerimaan di atas 30%, jadi APBN tool, kalau dibutuhkan dia kerja keras dan saat sudah membaik dia disehatkan kembali," papar Sri Mulyani.