Presiden Direktur PT Bank Central Asia (Tbk), Jahja Setiaatmadja mengatakan, BCA menjalin sindikasi dengan bank Himbara atau Himpunan Bank Milik Negara untuk menyalurkan kredit kepada BUMN.

“BUMN kualitasnya sudah sangat baik, sebab itu kita bergandengan tangan dengan BNI, Mandiri, BRI untuk sindikasi loan untuk perusahaan BUMN yang membutuhkan dana,” ujar Jahja dalam Indonesia Economic Outlook yang disiarkan CNBC Indonesia, Selasa (22/3/2022).

Kesuksesan perbankan untuk menaikkan kredit hingga 8,2 persen pada 2021, berasal dari permintaan korporasi yang berkembang cukup pesat khususnya di kuartal terakhir 2021.

Guna mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia, BCA berfokus pada consumer loan karena perkembangan daya beli sudah ada yang didukung pertumbuhan mobilitas sehingga menghasilkan buying power terutama masyarakat menengah atas.

“Itu menyebabkan demand seperti KPR (kredit perumahan rakyat) dan KKB (kredit kendaraan bermotor) meningkat pesat dan kita menggunakan momentum itu dengan pelayanan hybrid,” ujarnya.

BCA, lanjutnya, juga berfokus pada digitalisasi karena jika tidak ada digital perbankan akan kesulitan menjalankan bisnis di masa pandemi COVID-19. Kendati demikian, berdasarkan data BCA, hanya 30 persen nasabah yang mampu mengerjakan sendiri secara end-to-end sedangkan sisanya masih membutuhkan bantuan dari cabang dan jajaran BCA.

Kendala dalam digital banking, menrut Tjahja, dipengaruhi juga faktor usia nasabah yang bahkan umurnya telah mencapai 90 tahun. Beragamnya usia nasabah BCA di tengah digitalisasi perbankan membuat nasabah harus mengedukasi dirinya sendiri. 

Nasabah yang usianya lebih tua harus belajar kepada nasabah yang usianya lebih muda, paling tidak mereka dituntut untuk paham cara mengecek saldo dan melakukan transfer.

“Tidak semuanya bisa canggih, banknya cepat bertransformasi dalam digital tapi customer juga tetap harus kita servis sesuai keinginan mereka,” ucap dia.

Adapun terkait tantangan pada 2022 seperti inflasi dan suku bunga naik, ia menyampaikan bahwa likuiditas BCA relatif baik dengan LDR (loan to deposit ratio) 62 persen, namun pada saat ini pihaknya akan berfokus pada kredit

“Memang LAR (loan to asset ratio) kita relatif cukup rendah 14,6 persen tapi kan ini masih proses, kita harus amati satu-satu apakah mereka akan tetap sulit atau akan membaik. Ditambah suku bunga yang naik otomatis menambah burden, kita harus mengatur ini agar sama sama tertolong,” jelas dia