Donald Sihombing membangung PT Totalindo dengan modal Rp10,8 juta yang berasal dari uang pesangon di PT Total.

Forbes baru merilis deretan orang terkaya di dunia. Dari ribuan nama yang dirilis, ada satu nama baru yang berasal dari Indonesia. Dia adalah Donald Sihombing.

Nama Donald Sihombing secara mengejutkan masuk dalam daftar 21 orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Padahal pada 2018 lalu, nama Donald Sihombing belum masuk dalam deretan orang terkaya di Indonesia.

Siapa Donald Sihombing?

Donald Sihombing merupakan pendiri PT Totalindo Eka Persada Tbk, yang merupakan perusahaan konstruksi yang membangun Mal Taman Anggrek hingga Four Season di Jakarta.

Pria berusia 63 tahun itu menjabat sebagai Direktur Utama Perseroan sejak tahun 1996. Dia memperoleh gelar Bachelor of Science untuk Teknik Sipil dari University of Akron, Ohio, Amerika Serikat di bidang civil engineering pada tahun 1984

Dia memiliki pengalaman selama lebih dari 33 tahun dalam industri konstruksi. Sebelum mendirikan Perseroan pada tahun 1996, beliau bekerja sebagai site manager pada Shimizu Corporation Indonesia, Jakarta (1985-1986), PT Balfour Beatty Sakti (1986-1990) dan PT Total Bangun Persada Tbk (1990-1994).

Kiprah Donald Sihombing di industri konstruksi tak dapat dipisahkan dari peristiwa saat dia dipecat dari PT Total Bangun Persada pada 24 April 1995. Pangkal penyebabnya bukan karena perilakunya, melainkan ulah rekan kerjanya yang melakukan perbuatan tidak terpuji.

Gara-gara ini, Donald terkena getahnya. Ia dituding melakukan perbuatan yang tidak pantas. Akibatnya, pada pukul 10.00 WIB hari itu ia menerima sepucuk surat tanda pisah. Ia pun diberi pesangon sebesar Rp10,8 juta.

Namun, kisah hidupnya berubah 180 derajat saat menerima telepon dari pengusaha properti dan pendiri Grup Mulia, Djoko S Tjandra. “Saya ditelepon Pak Djoko untuk menemuinya pukul 2 siang. Setelah berjumpa dengannya, saya diberi kepercayaan melanjutkan proyek pembangunan Mal Taman Anggrek,” kata Donald seperti dilansir dari SWA. Tanpa berpikir panjang, ia menyanggupinya.

Peristiwa itu mengawali kiprah Donald sebagai pengusaha konstruksi. Modalnya hanya uang pesangon Rp 10,8 juta. Ia kemudian mendirikan PT Totalindo Eka Persada Tbk. pada 31 Oktober 1996, atau setahun setelah mendapat proyek pembangunan konstruksi Mal Taman Anggrek (MTA) yang dimiliki oleh Grup Mulia.

Relasi antara Donald dan Djoko terjalin semasa Donald berkarier di Total. Ia bekerja di perusahaan konstruksi itu tahun 1990-95. Nah, selama bekerja di Total, ia pernah menangani sejumlah proyek pembangunan properti milik Grup Mulia, di antaranya Wisma GKBI di Jakarta dan Menara BRI di Surabaya, Jawa Timur.

Sejak IPO pada Juni 2017, harga saham Totalindo terus menanjak. Donald sendiri memiliki sekira 74 persen saham Totalindo.

Perseroan juga ikut mendukung program pemerintah dengan ikut membangun rumah murah untuk masyarakat dengan pendapat menengah ke bawah.

Dari kiprahnya di Totalindo, Forbes menaksir kekayaan Donald mencapai US$1,4 miliar atau Rp19,6 triliun.

Kekayaan Donald Sihombing ini pun langsung melewati kekayaan para miliarder RI seperti Sukanto Tanoto, Eddy Kusnadi Sariaatmadja, Ciputra, hingga Hari Tanoesoedibjo.

Berikut daftar orang terkaya Indonesia yang masuk daftar orang terkaya di dunia versi Forbes. Peringkat mereka ditulis sesuai dengan peringkat Forbes. (Kurs: Rp 14.000 per dolar AS)

54. R. Budi Hartono
Djarum
US$ 18,6 miliar (Rp 260,4 triliun)

56. Michael Hartono
Djarum
US$ 18,5 miliar (RP 259 triliun)

200. Sri Prakash Lohia
Indorama Corporation
US$ 7,3 miliar (Rp 102,2 triliun)

424. Tahir dan keluarga
Mayapada
US$ 4,5 miliar (Rp 63,0 triliun)

568. Chairul Tanjung
CT Corp
US$ 3,7 miliar (Rp 51,8 triliun)

617. Prajogo Pangestu
Barito Pacific
US$ 3,5 miliar (Rp 49,0 triliun)

962. Low Tuck Kwong
Bayan Resources
US$ 2,4 miliar (Rp 33,6 triliun)

1008. Mochtar Riady dan keluarga
Lippo Group
US$ 2,3 miliar (Rp 32,2 triliun)

1349. Theodore Rachmat dan keluarga
Triputra Group
US$ 1,7 miliar (Rp 23,8 triliun)

1349. Martua Sitorus
Wilmar
US$ 1,7 miliar (Rp 23,8 triliun)

1349. Peter Sondakh
Rajawali Corpora
US$ 1,7 miliar (Rp 23,8 triliun)

1425. Alexander Tedja
Pakuwon Jati
US$ 1,6 miliar (Rp 22,4 triliun)

1605. Murdaya Poo
Central Cipta Murdaya
US$ 1,4 miliar (Rp 19,6 triliun)

1605. Donald Sihombing
Totalindo
US$ 1,4 miliar (Rp 19,6 triliun)

1717. Eddy Kusnadi Sariaatmadja
Elang Mahkota Teknologi (EMTEK)
US$ 1,3 miliar (Rp 18,2 triliun)

1717. Djoko Susanto
Alfa Supermarket
US$ 1,3 miliar (Rp 18,2 triliun)

1717. Sukanto Tanoto
Royal Golden Eagle
US$ 1,3 miliar (Rp 18,2 triliun)

1941. Ciputra dan keuarga
Ciputra Development
US$ 1,1 miliar (Rp 15,4 triliun)

1941. Harjo Susanto
Wings
US$ 1,1 miliar (Rp 15,4 triliun)

1941. Hary Tanoesoedibjo
Media Nusantara Citra (MNC)
US$ 1,1 miliar (Rp 15,4 triliun)

2057. Soegiarto Adikoesoemo
AKR Corporindo
US$ 1 miliar (Rp 14 triliun)