Jasad model asal Rusia berusia 23 tahun, Gretta Vedler ditemukan dalam sebuah koper. Ia sempat dinyatakan menghilang selama setahun lebih sebelum akhirnya ditemukan tewas.

Sebulan sebelum hilang atau saat masih hidup, Vedler sempat menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin sebagai seorang psikopat.



Penemuan mayat Vedler berawal dari laporan seorang temannya Evgeniy Foster, seorang blogger dari kota Kharkiv Ukraina. Foster curiga atas hilangnya Vedler. Ia pun meminta seorang teman di Moskow untuk mengajukan laporan orang hilang.

Pada Minggu (13/03) lalu, sejumlah media Rusia memberitakan penemuan jenazah seorang perempuan di dalam koper yang diletakkan di bagasi mobil. Selang sehari kemudian, Dmitry Korovin, kekasih Vedler, kepada pihak kepolisian mengaku sebagai pelaku pembunuhan model cantik tersebut.

Insiden tersebut terjadi setelah Gretta Vedler dan Dmitry Korovin bertengkar karena masalah keuangan. Korovin mengaku mencekik Vedler sampai mati di sebuah hotel di Moskow.

Setelah membunuh, Korovin mengaku memasukkan jenazah Gretta ke dalam koper yang baru dibelinya. Parahnya lagi, Korovin juga mengaku kepada pihak kepolisian bahwa dia tidur di kamar hotel selama tiga malam dengan mayat Gretta Vedler.

Selanjutnya Korovin mengaku mengemudi dengan membawa tubuh Vedler ke wilayah Lipetsk di bagian barat Rusia. Ia meninggalkan mayat tersebut selama satu tahun di bagasi mobil.



Untuk menghilangkan jejak pembunuhan, Korovin terus memposting foto dan pesan di media sosial Gretta Vedler untuk memberi kesan palsu bahwa dia masih hidup. Korovin akhirnya mengakui kejahatannya dan memperagakan cara bagaimana dia membunuh sang model.

Kasus pembunuhan itu, disebut oleh The Mirror, tak terkait dengan kritik Gretta Vedler terhadap Putin.

Diketahui, Vedler pada Januari 2021 lalu menyuarakan keprihatinan atas tindakan keras Presiden Putin terhadap protes dan keinginan meningkatkan integritas Rusia.

"Saya hanya bisa berasumsi, menurut pendapat saya, psikopati atau sosiopati yang jelas terlihat dalam dirinya. Untuk psikopat, penting untuk terus-menerus mengalami rasa kepenuhan dan ketajaman hidup, sehingga mereka menyukai risiko, pengalaman intens, komunikasi intens, aktivitas intens, kehidupan yang intens dan dinamis," tulis Vedler di akun media sosialnya.