Washington memerintahkan keluarga para diplomat Amerika Serikat (AS) untuk meninggalkan Ukraina. Alasannya, ketegangan yang sedang berlangsung di sepanjang perbatasan Rusia dengan Ukraina.

Menurut travel advisory terbaru dari Departemen Luar Negeri AS, beberapa staf kedutaan juga diizinkan meninggalkan Ukraina secara sukarela.

"Ada laporan bahwa Rusia sedang merencanakan aksi militer yang signifikan terhadap Ukraina," kata Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya.

Menurut travel advisory, warga Amerika sangat disarankan untuk tidak melakukan perjalanan ke Ukraina.

"Sementara mereka yang sudah berada di negara itu diberitahu untuk mempertimbangkan untuk pergi sekarang menggunakan pilihan transportasi komersial atau transportasi pribadi lainnya," bunyi travel advisory tersebut.

Langkah yang sama juga ditempuh Inggris yang memutuskan menarik sebagian staf kedutaan besar (kedubes).

"Beberapa staf dan keluarga Kedutaan Besar ditarik dari Kyiv sebagai tanggapan atas meningkatnya ancaman dari Rusia. Kedutaan Besar Inggris tetap buka dan akan terus melakukan pekerjaan penting," papar pernyataan saran perjalanan Inggris.

Sebelumnya, pada Jumat (21/01) malam waktu setempat, Kedutaan Besar AS di Ukraina mengumumkan pengiriman amunisi pertama telah tiba seperti yang diarahkan oleh Presiden Biden.

Sejumlah pejabat AS mengatakan, amunisi tersebut merupakan bagian dari apa yang disebut Kementerian Luar Negeri AS sebagai bantuan "mematikan" yang dibutuhkan oleh tentara Ukraina di garis depan.

Para pejabat AS juga memberi tahu Fox News bahwa rudal anti-tank Javelin diperkirakan akan tiba awal minggu pekan dari negara-negara Baltik dan dari persediaan militer AS.

Sementara itu, sejumlah jet tempur canggih Rusia telah tiba di Belarus, negara sekutu Moskwa di utara Ukraina.

Moswa meminta NATO untuk tidak menjadikan Ukraina anggota dari aliansi itu. Rusia juga menuntut Barat menarik kekuatannya dari Eropa timur.

Namun, tuntutan-tuntutan Rusia tersebut ditolak oleh Barat.

Pembicaraan antara Menteri Luar Negeri AS Blinken dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga tidak menghasilkan terobosan meski kedua belah pihak sepakat melanjutkan negosiasi secara diplomatis.

Kedua diplomat itu akan berbicara lagi setelah AS mengajukan tanggapan resmi atas tuntutan Rusia pekan depan.