Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika menyatakan, industri gula nasional pada saat ini masih menghadapi tantangan. 

Hal itu terlihat dari rata-rata hasil produksi pada lima tahun terakhir hanya sekitar 2,2 juta ton per tahun, sedangkan total kebutuhan gula nasional tahun 2021 mencapai 6 juta ton.

"Kebutuhan gula nasional semakin meningkat setiap tahunnya, karena dengan asumsi pertumbuhan industri makanan dan minuman yang diproyeksi meningkat sekitar 5-7 persen per tahun dan kenaikan pertambahan penduduk Indonesia berdasarkan data BPS yang juga meningkat sekitar 1,25% setiap tahun," ujar Putu dikutip dari keterangan resminya, Jumat (21/01/2022). 

Dengan pertumbuhan kebutuhan gula nasional yang semakin meningkat, lanjut Putu, maka pada tahun 2030 diproyeksikan kebutuhan gula nasional akan mencapai 9,8 juta ton. 

Berangkat dari situ, pemerintah melakukan upaya dan fasilitasi pengembangan untuk pembangunan pabrik gula baru yang terintegrasi dengan perkebunan.

Untuk memberikan fasilitas bahan baku dalam rangka pembangunan industri gula, telah diterbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10 Tahun 2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku Dalam Rangka Pembangunan Industri Gula.

“Kami berharap, pelaku industri gula dapat memanfaatkan fasilitas tersebut secara optimal dengan harapan agar target pemenuhan kebutuhan gula nasional dapat dipenuhi dari dalam negeri,” tegas Dirjen Industri Agro. 

Dia menyampaikan, pihaknya akan terus memonitor perkembangan pabrik gula rafinasi di tanah air seiring dengan kebutuhan Gula Kristal Rafinasi (GKR) di pasar domestik yang kian meningkat, mengingat sektor industri pengguna GKR mulai bergeliat dan aktivitas perekonomian nasional semakin pulih setelah terkena imbas pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Importir Gula Terbesar Dunia

Sementara Direktur Utama PT. Perkebunan Nusantara III (Persero), Muhammad Abdul Ghani menyebutkan, kecukupan antara produksi dan kebutuhan masih menjadi isu terkait pemenuhan gula nasional. 

Di mana produksi baru mencapai 2,3 juta ton sementara konsumsi mencapai 6,7 juta ton, di mana 4,3 juta ton untuk industri makanan dan minuman, sementara 3,3 juta ton untuk konsumsi. 

"Dari sisi konsumsi saya kita masih kekurangan satu juta ton, sementara untuk industri makanan dan minuman kita defisit 3,3 juta ton. Sehingga tidak mengherankan jika Indonesia menjadi negara importir gula terbesar di Dunia," ujar Abdul Ghani.

Oleh sebab itu, kata Abdul Ghani, kunci pemenuhan gula dalam negeri adalah memperbaiki dan mendorong produktivitas petani dan produsen di tengah kian berkurangnya lahan.

Selain itu, katanya, diperlukan juga langkah penguatan dan peningkatan produksi gula nasional di PTPN III, salah satunya dilaksanakan dengan menggaet investor asing. 

"Lewat investor, diharapkan ada peningkatn dan transfer teknologi, lahan, dan mendorong kapasitas petani hingga varietas baru dan menopang pemenuhan kebutuhan gula nasional," ujar Abdul Ghani. 

Dikatakannya, PTPN 3 menargetkan peningkatan produksi gula nasional dari 800 ton menjadi 1,8 juta ton per tahun di 2025 melalui perluasan lahan menjadi 100 ribu hektar sekaligus mendorong kesejahteraan petani.