Bisa jadi Presiden Joko Widodo (Jokowi) kaget mendengar curhatan Direktur Utama PT Bintan Alumina Indonesia, Santoni, saat kunjungan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Senin (24/1/2022).

Kala itu, Santoni dengan lugasnya bilang, layanan perizinan masih berbelit-belit. Masalah ini sudah dialami Santoni bertahun tahun "Pertama, kami tentu merasa bahagia Presiden Jokowi mengunjungi kawasan operasional perusahaan kami. Dalam kesempatan ini kami akan menyampaikan persoalan perijinan investasi yang panjang dan berlarut-larut. Kami yakin presiden memberi solusi," kata Santoni.

Sayangnya, Santoni tidak merincikan jenis perizinan apa yang dirasakan menghambat operasional produksi perusahaan yang sudah berinvestasi Rp16 triliun di-KEK tersebut. "Terlalu banyak, saya tidak dapat menyebutkan satu-persatu. Sana-sini butuh izin. Kami tentu patuh, tetapi waktunya terlalu lama," keluhnya.

Santoni mengemukakan, akibat birokrasi berbelit-belit dan menelan waktu yang panjang, berdampak kepada terganggunya operasional perusahaan. Para investor di perusahaan yang memproduksi biji alumina itu, hanya bisa mengelus dada atau menghela nafas panjang.

Operasional yang terhambat akibat banyak perizinan menyebabkan biaya produksi semakin tinggi dan produktivitas usaha terhambat.
"Kami berharap mendapat kemudahan sehingga operasional perusahaan berjalan lancar," ucapnya.

Investasi di perusahaan itu berstatus sebagai modal asing, yang terdiri dari investor asal China dengan persentase saham sekitar 80 persen, dan sisanya dari Malaysia. Saat ini, PT Bintan Alumina Indonesia sudah mengekspor sekitar 500 ribu biji alumina. "Jumlah tenaga kerja lokal yang bekerja di perusahaan kami sekitar 4 ribu orang," tuturnya.