Meski demikian, ada yang memprediksi mata uang kripto paling populer dengan kapitalisasi pasar terbesar ini akan kembali merosot bahkan menghadapi crypto winter.

Melansir data dari Coin Market Cap, pada perdagangan Senin (24/1) hingga pukul 06:05 WIB, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 35.629/koin, naik 2,12% dalam 24 jam terakhir. Tetapi dalam 7 hari terakhir, Bitcoin jeblok lebih dari 17%.

Ivesco, perusahaan investasi yang berbasis di Atlanta, Amerika Serikat (AS) melihat Bitcoin akan jeblok ke bawah US$ 30.000/koin sebab ada kemiripan dengan jebloknya Wall Street tahun 1929. Kemiripan tersebut terletak pada promosi besar-besaran kripto yang sama dengan yang dilakukan broker di Amerika Serikat sebelum Wall Street mengalami crash.

"Pemasaran besar-besaran dari Bitcoin mengingatkan kami pada aktivitas broker yang memicu crash Wall Street pada tahun 1929," kata Paul Jackson, head of asset allocation Invesco sebagaimana diwartakan Kitco, Sabtu (22/1/2022). "Kami pikir Bitcoin jeblok ke bawah US$ 30.000/koin pada tahun ini," tambahnya.

Jackson mengatakan, probabilitas terjadinya crash Bitcoin hingga ke bawah US$ 30.000/koin sebesar 30%. Sebelumnya analis UBS mengatakan pasar kripto berisiko mengalami "winter" alias penurunan kemudian stagnan dalam waktu yang lama.

Crypto winter sebelumnya pernah terjadi pada 2018 lalu, ketika Bitcoin ambrol harganya lebih dari 70%, kemudian stagnan cenderung menurun hingga April 2019.

Tim analis UBS yang dipimpin James Malcolm mengatakan kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) pada tahun ini akan menurunkan daya tarik Bitcoin. Selain itu, Malcolm juga menyatakan investor kripto kini mulai melihat Bitcoin bukan "mata uang yang lebih bagus", sebab memiliki volatilitas yang tinggi.

Dari rekor tertinggi yang dicapai pada 10 November lalu, di atas US$ 68.000/koin, hingga hari ini Bitcoin sudah jeblok lebih dari 46%. Faktor lain yang berisiko memicu crypto winter adalah kemungkinan adanya regulasi dari pemerintah di berbagai negara.