Pekan lalu, perusahaan telekomunikasi ternama asal Singapura, Singapore Telecommunications (Singtel) menggelonotrkan dana sebesar Rp500 miliar, atau sekitar S$48 juta untuk akuisisi Bank Fama.

Kini, Singtel resmi menjadi pemilik 16,3% saham PT Bank Fama International (Bank Fama), yang sebelumnya dimiliki  PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).  Bank milik Emtek Grup ini, dicaplok Singtel dengan harapan, investasinya bisa berkembang pesat, serta mendorong inklusi keuangan yang lebih besar ke depannya.

Sebelumnya, investor Singapura lainnya, Sovereign Wealth Fund asal Singapura, GIC Private Limited, sudah jadi pemegang saham PT Bank Jago Tbk (ARTO).

Sebelumnya, GIC sudah menggenggam 8,08% saham ARTO pasca bank ini menyelesaikan penawaran terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue pada Maret 2021.

Tak mau ketinggalan, Sea Group juga telah mengakuisisi PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE). Lalu, Sea Group mengonversi menjadi bank digital dan mengganti nama menjadi Seabank Indonesia.

Dikutip dari kontan.co.id, Senin (24/1/2022), Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Amin Nurdin mengatakan, ketertarikan investor Singapura berbisnis bank di Indonesia, karena menjanjikan balik modal cepat.

Secara profitabilitas, kata Amin, lebih tinggi yang terukur dari indikator keuangan seperti net interest margin (NIM), return on asset, return equity, maupun beban operasional terhadap pendapatan operasional. “Selain itu, kemudahan dalam investasi dan apalagi persyaratan untuk investor di perbankan tidak seketat di negara lain. Bahkan Singapura sendiri lebih ketat dari Indonesia,” kata Amin.

Ia memprediksi, persaingan di antara bank digital di Indonesia di masa depan, bakalan seru. Apalagi, banyak investor asing yang masuk, ditambah dengan minat sejumlah konglomerat papan atas untuk berinvestasi di bank digital. “Jika kita melihat industri perbankan, maka peta persaingan akan terjadi antar bank konvensional, antar bank konvensional dan bank syariah, antar bank dengan fintech, dan antar bank konvensional, syariah, fintech dengan bank digital,” paparnya.

Mereka akan memacu meningkatkan layanan dan membuat produk dan layanan yang terbaik untuk memenangkan persaingan. Sehingga, nasabah dan masyarakat konsumen diberikan banyak pilihan untuk menetapkan bertransaksi dan menjadi bagian yang mana dari industri yang ada dan berkembang tersebut.

Amin melihat masuknya bigtech ke perbankan lokal, akan berdampak positif bagi perbankan lokal. Tak hanya persaingan, tapi juga akan ada transfer teknologi dan pengetahuan dari mereka untuk perbankan Indonesia dan ini akan bagus untuk menjadikan industri perbankan dan keuangan Indonesia menjadi lebih baik ke depan.