PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) kembali menjual aset setelah beberapa waktu lalu mendivestasikan jalan tol hingga 2025 mendatang akibat beban utang yang terlalu berat setidaknya mencapai Rp53-Rp54 triliun. Kali ini, Waskita menawarkan aset dalam bentuk properti hingga lahan kosong.

"Properti yang ditawarkan terdiri dari apartemen, commercial area dan lahan kosong (landbank) berada di Tangerang Selatan, Surabaya dan Bali dengan lokasi yang strategis serta memiliki konsep produk unggulan," ujar SVP Corporate Secretary Waskita Karya Ratna Ningrum seperti dikutip dari pernyataannya, di Jakarta, Kamis (20/01) kemarin.

Menurut dia Waskita menyertakan sebanyak lima persediaan properti milik Waskita Karya Realty, selaku anak usaha Waskita Karya, yang akan dilepas secara bulk baik dalam bentuk klaster maupun sebagian berdiri sendiri (standalone).

Penjualan aset akan dilakukan minggu pertama Februari 2022 yang akan diumumkan pada media cetak dan digital serta laman resmi Danareksa www.danareksa.co.id.

Kerja sama dengan Danareksa memberikan peluang bagi para investor untuk mengakuisisi persediaan properti yang dimiliki, dikendalikan, dan dikelola oleh BUMN Konstruksi melalui mekanisme penjualan persediaan properti (monetisasi aset).

"Bagi nvestor yang berminat dapat melakukan registrasi, dilanjutkan dengan mengikuti sesi investor gathering pada minggu kedua Februari 2022," kata Ratna.

Dia mengatakan, hasil dari program ini nantinya akan digunakan untuk pendanaan investasi lainnya di 2022. Waskita Karya melalui Anak perusahaannya, Waskita Karya Realty memiliki beberapa portofolio investasi yang masih berjalan dan yang akan dikembangkan.

Langkah menjual aset sebelumnya juga pernah dilakukan Waskita Karya. Pada September 2021 lalu, Waskita sudah mendivestasikan empat ruas tol dan mendapatkan Rp6,8 triliun dari proses tersebut. Tol tersebut antara lain Cibitung-Cilincing, Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Cinere-Serpong, dan Semarang-Batang.

Terkait proses divestasi ini, Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soewardjono menyebut perusahaan juga dekonsolidasi utang senilai Rp 6 triliun, sedangkan sisanya merupakan margin usaha.

"Jadi ga ada yang rugi karena ruas yang dilepas ini ruas bagus, hanya karena Covid jadi traffic saat transaksi rendah tapi prospek ke depan terhadap ruas yang dilepas sangat baik," terangnya.