Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, Jakarta, Senin (19/1/2022), mengatakan, jumlah itu meningkat dibandingkan realisasi investasi tahun 2020 yang berada pada angka 10,5 miliar dolar AS. "Investasi yang cukup besar ini dilakukan karena kami menyadari sepenuhnya bahwa ke depan kebutuhan terhadap migas akan semakin besar," ujarnya.

Dwi menjelaskan, kebutuhan investasi tersebut akan semakin meningkat ke depannya untuk mencapai target besar industri hulu migas yaitu pencapaian target produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari (BOPD) dan produksi gas sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030.

Menurut mantan Dirut Pertamina ini, seluruh pemangku kepentingan perlu melakukan usaha bersama untuk menciptakan iklim investasi yang mendukung pencapaian target tersebut. Selain itu, perbaikan fiskal juga diperlukan untuk meningkatkan investasi migas di masa depan.

Dampak positif dari peningkatan produksi migas nasional akan mengurangi Current Account Deficit (CAD), menjaga ketahanan energi nasional, menciptakan lapangan kerja dan penguatan kapasitas perusahaan nasional penunjang industri hulu migas.

"Permintaan minyak meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi dan akan diimbangi dengan pasokan. Pada jangka pendek harga minyak meningkat karena peningkatan permintaan," ujar Dwi.

Lebih lanjut dia mengungkapkan kebutuhan minyak dan gas bumi juga akan tetap signifikan, meskipun saat ini dunia sedang bergerak menuju netralitas karbon.

Meskipun porsi bauran energi migas dan kebutuhan menurun setiap tahun seiring dengan meningkatnya persentase bauran energi baru terbarukan, namun secara volume kebutuhan migas akan semakin membesar.

Dwi menuturkan gas bumi juga akan memainkan peran strategis sebagai agen transisi energi.
"Dalam rangka memaksimalkan dukungan industri hulu migas selama masa transisi energi ini, investasi kembali menjadi kunci," ucapnya.

SKK Migas juga mencatat total pendapatan dari bagian negara mencapai 14 miliar dolar AS atau sekitar 203 miliar dolar AS. Jumlah itu meningkat sekitar 61 persen dibandingkan tahun 2020 yang hanya sebesar 8,7 miliar dolar AS.

"Meskipun tahun 2021 kita masih dibayang-bayangi suasana pandemi COVID-19, sektor ini tetap bisa memberikan kontribusi signifikan bagi negara. Ini menegaskan betapa pentingnya industri hulu migas bagi perekonomian nasional dan sumber penerimaan negara untuk mendukung pemulihan perekonomian nasional dan penanggulangan pandemi COVID-19," ujar Dwi.