Direktur Pusat Riset Politik Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menanggapi pidato Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri yang menyebut Ahok sebagai sahabatnya.

Menurutnya, Megawati sedang memberikan sinyal kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk tidak "menyentuh" Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

"Bisa jadi demikian, publik berpikir dengan adanya pernyataan Megawati seakan memberi sinyal kepada KPK bahwa Ahok menjadi bagian dari teman dekatnya, sehingga jangan sampai dilakukan pengungkapan terhadap kasus-kasus yang melibatkannya," ujar Saiful seperti dikutip dari RMOL, Rabu (12/1).

Jika hal tersebut benar, kata Saiful, maka ucapan Megawati itu merupakan bagian jual pengaruh agar jangan sampai menyentuh Ahok.

"Selain itu, mengapa pernyataan tersebut dinyatakan oleh Mega pada saat Ahok dilaporkan kepada KPK? Apakah ada ketakutan bahwa Ahok akan diungkap dugaan korupsinya?" tanyanya.

Saiful berpandangan publik tentu berharap agar KPK tidak takut dengan "sinyal" Megawati, dan terus ungkap laporan dugaan korupsi yang menjerat Komisaris Utama PT Pertamina itu.

"Kalau tidak terlibat saya kira tidak perlu ada yang ditakuti. Untuk itu publik berharap kalau memang terindikasi terlibat, saya kira harus diungkap secara transparan," tandasnya. 

Sebelumnya, Megawati Soekarnoputri menyapa sejumlah tokoh yang turut menghadiri puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 PDI-P.

Dari sejumlah tokoh yang disebut, secara spesial Megawati menyebut mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai sahabatnya. 

"Ada sahabat saya, Pak Ahok, atau yang terkenal Basuki Tjahaja Purnama," kata Megawati saat membuka pidatonya di puncak perayaan HUT ke-49 PDI-P, Senin (10/1/2022).

Megawati mengaku melihat Ahok hadir dalam acara tersebut secara daring. Dirinya melihat Ahok lewat layar dalam aplikasi pertemuan online.