Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra menyesalkan kurang populernya program orang tua asuh bagi anak-anak terlantar dibandingkan dengan mengadopsi spirit doll atau yang lebih dengan dengan boneka arwah. 

"Kelihatannya program pemerintah ini kurang populer di tengah masyarakat. Sehingga ada masyarakat yang membandingkan dan menyayangkan fenomena menjadi orangtua dari boneka arwah dengan kebutuhan daftar orangtua pengganti di negara ini," kata Jasra melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (11/01/2022).

Padahal katanya, pemerintah mencatat pada 2020 ada 67.368 data anak terlantar di Indonesia dan terus bertambah seiring dengan adanya kasus bayi dibuang atau terlantar. 

Selain itu terdapat juga anak-anak yang kehilangan orang tua secara mendadak selama pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang jumlahnya mencapai 30.766 anak.

Menurut Jasra Putra, selain karena meninggalnya orangtua akibat bencana, anak-anak dapat menjadi terlantar karena berbagai masalah keluarga atau terlibat permasalahan hukum. 

"Belajar dari beberapa bencana alam dan bencana pandemi, anak-anak yang mendadak kehilangan orangtua, artinya perlu mendapatkan segera pengganti keluarga. Begitupun anak yang kehilangan orangtua karena perceraian, orangtua berhadapan dengan hukum, anak dalam masa pidana, anak dalam lembaga pengasuhan atau lembaga serupa yang menjadikan anak diasuh di luar keluarga," papar Jasra Putra. 

Dia menekankan, anak-anak terlantar ini butuh kehadiran orangtua dalam keluarga yang harmonis. 

"Mereka butuh kehadiran yang layaknya orangtua bagi mereka agar dapat perhatian penuh dalam tumbuh kembangnya. Karena anak-anak yang terlepas dari keluarga diyakini bisa berkembang baik, bila pengasuh penggantinya menerapkan sistem keluarga," pungkasnya.