Melihat konstelasi kepemimpinan nasional, PKS ingin banyak tokoh berkualitas yang ikut berlaga dalam Pilpres 2024. Karenanya, masyarakat harus diberikan banyak pilihan untuk memilih presiden. 

"Kami meyakini, bahwa negeri ini memiliki banyak stok pemimpin yang kredibilitas, integritas, dan akseptabilitasnya memadai untuk memimpin Indonesia ke depan," kata Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al-Jufri dalam keterangannya, dikutip Minggu (2/1/2021). 

Namun kata Salim, masalahnya adalah banyak hambatan untuk membuka pintu kepemimpinan nasional, salah satunya adalah penerapan angka presidential threshold (PT) yang terlalu tinggi yakni 20 persen. Akibatnya sejak 2014, politik kita mulai tidak sehat, terjadi pembelahan ekstrem di tengah masyarakat. 

"Karena itu, upaya paling efektif untuk menghentikan pembelahan politik ekstrem tersebut adalah dengan menurunkan angka PT menjadi lebih proporsional, yakni 4 persen sesuai parliamentary threshold. Sehingga, dapat terbentuk minimal 3 poros pasangan calon dalam Pilpres 2024 mendatang," ujarnya. 

Untuk itu, kata Salim, maka komunikasi dan silaturahim politik harus terus dibangun, apalagi ditujukan bagi perbaikan bangsa dan negara ke depan. 

Salim pun menyambut baik gagasan partai menengah seperti seperti PKB, PPP dan PAN untuk mulai membicarakan platform bersama menuju 2024.

Salim juga mendorong agar partai yang pernah memenangkan pemilu sebelumnya, seperti Golkar dan Demokrat, berani tampil menggalang kekuatan nasionalis-religius. 

"Tak boleh lagi ada dikotomi," tegasnya. 

Salim menolak pandangan yang menyebut kandidat pilpres lebih dari dua akan menyita energi dan anggaran negara. Untuk pembangunan infrastruktur fisik saja sudah dikeluarkan anggaran besar, mengapa upaya membangun infrastruktur sosial-politik demokrasi tidak disiapkan. 

"PKS sudah mempelopori Silaturahim Kebangsaan lintas parpol dan elemen bangsa lainnya. Tinggal diteruskan proses komunikasinya agar lebih matang demi terwujudnya platform bersama menuju 2024," tandas mantan Menteri Sosial ini.