Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Giring Ganesha Djumaryo kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, publik menyoroti Giring putus studi (drop out/DO) dari kampus Universitas Paramadina.

Isu mengenai Giring DO dari kampus muncul tak lama setelah eks vokalis Nidji itu menyampaikan pidato yang diduga menyinggung Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Pihak Universitas Paramadina pun angkat suara. "Iya (drop out), tidak menyelesaikan ya, banyak hal lah ya," kata Wakil Rektor Universitas Paramadina, Fatchiah Kertamuda membenarkan.

Fatchiah mengungkapkan Giring pertama kali mendaftar di Universitas Paramadina pada 2002 dengan jurusan Hubungan Internasional. Namun, pada 2011, Giring DO dari kampus tersebut. Fatchiah seperti dikutip cnnindonesia, tidak mengetahui secara detail alasan Giring putus studi. Ia menduga, kesibukan Giring dalam bermusik menjadi salah satu penyebabnya.

Fatchiah juga mengaku tidak mendengar adanya catatan buruk yang dilakukan Giring sebagai mahasiswa. Berdasarkan informasi yang ia dapat, Giring cukup aktif saat awal-awal perkuliahan.

"Giring itu pernah daftar di tahun 2002 pertama kali mendaftar di Paramadina. Tapi memang tidak menyelesaikan studinya karena memang waktu itu kan dia lagi aktif ya sama bandnya," jelasnya.

"Kalau saya enggak cukup kenal tapi anaknya aktif. Sebagai mahasiswa sudah sesuai aturan cuma waktu menyelesaikan studinya yang agak ini ya," imbuhnya.

Kemudian di tahun 2017, Giring mendaftar kembali sebagai mahasiswa di Paramadina dengan jurusan yang sama. Namun, studinya itu kembali terhenti pada semester 2020/2021.

"Memang mungkin alasannya seragam. Sehingga baru sesemester, tidak lagi aktif ya. Jadi akhirnya ada SK keluarlah semester genap 2020/2021 status pemberhentian dia sebagai mahasiswa," ujar Fatchiah.

Sebagai informasi, saat Giring DO dari kampus tu yang menjadi Rektor Universitas Paramadina adalah Anies Baswedan. Anies memimpin kampus yang berada di Jakarta Selatan itu kurun waktu 2007-2015.


Tanggapan PSI

Sementara juru bicara PSI, Ariyo Bimmo mengaku heran banyak pihak menanggapi pidato Giring itu malah dengan menyerang masalah pribadi.

Padahal, kata dia, seharusnya pihak yang tak setuju dengan pidato Giring itu bisa mendebat pernyataan tersebut.

"Saya heran mengapa tanggapannya menjadi ad hominem? Mengapa tidak didebat saja argumentasi PSI mengenai pemimpin 2024? Apakah ini karena apa yang disampaikan Giring tidak bisa dibantah sehingga harus masuk ke soal-soal seperti ini?" ujarnya.

Menurut Ariyo, seseorang yang DO dari kampus pun bukan berarti tidak bisa menjadi pemimpin. Menurut dia, tidak selalu ada korelasi antara pendidikan dan kepemimpinan.

Di sisi lain, saat itu juga Giring lebih giat dalam aktivitas bermusiknya. Ia menilai hal itu sebagai sesuatu yang wajar.

"Wajar ketika anak muda sudah mengenal uang, independen, dan mandiri harus memilih prioritas. Pilihan-pilihan seperti ini biasa dalam kehidupan anak muda. Mark Zuckerberg saja salah satu orang terkaya di dunia pernah DO, Bill Gates pun pernah di DO. Tidak ada yang bilang Zuck dan Gates bodoh, tapi mereka punya prioritas pada suatu masa dalam hidupnya," jelas Ariyo.

"Giring Ganesha punya harapan agar anak muda Indonesia, terutama yang berhasil menyelesaikan kuliahnya, sudah punya rencana dan prioritas juga. Agar harapan harapan orangtua mereka yang menyekolahkan tidak sia-sia," kata dia menambahkan.

Diketahui pada HUT PSI yang dihadiri Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) lalu dalam pidatonya Giring yang merupakan Ketum partai itu menyampaikan pernyataan keras. Dia menyatakan Indonesia suram jika dipimpin pembohong yang juga pecatan Jokowi.

Saat itu, Giring tak menyebut siapa sosok yang dimaksud. Namun bila merunut ke belakang, Giring juga sempat melontarkan hal serupa dalam sebuah keterangan video beberapa waktu lalu. Namun, saat itu Giring menyebut langsung nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Dalam video itu, Giring menuding Anies sebagai pembohong. Ia menyebut Anies kerap berpura-pura peduli terhadap masyarakat di tengah kesulitan masyarakat saat pandemi COVID-19 hingga Formula E.