Pascakejadian gempa bumi berkekuatan M7,4 di Laut Flores, Selasa (14/12) lalu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan analisis secara geologis terkait kejadian gempa tersebut. Tim PVMBG tengah disiapkan untuk terjun langsung melakukan pemetaan, kajian, dan analisis secara langsung di daerah terdampak.

"Saat ini Tim Tanggap Darurat Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG telah disiapkan menuju lokasi kejadian untuk melakukan pengamatan lapangan, kajian, dan analisis detal terkait kejadian gempa bumi Laut Flores. Kegiatan ini kami lakukan bersama-sama dengan Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Universitas Hasanuddin, serta melakukan pemetaan secara cepat pascakejadian gempa bumi," ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani, pada Konferensi Pers secara virtual, Rabu (15/12).

Berdasarkan data lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, dan mekanisme sumber (focal mechanism) yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), United States Geological Survey (USGS), dan GeoForschungsZentrum (GFZ), maka kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktvitas sesar aktif dengan mekanisme sesar mendatar berarah barat laut hingga timur tenggara.

"Sesar mendatar ini sebelumnya belum teridentifikasi sebagai sumber gempa bumi. Berdasarkan data Badan Geologi sebelumnya, struktur utama di Laut Flores adalah sesar naik busur belakang Flores yang berarah relatif barat - timur. Sesar naik ini pernah memicu terjadinya gempa bumi dengan magnitudo (M 6,8) yang memicu tsunami pada tahun 1992," jelas Andiani.

Andiani juga menjelaskan bahwa lokasi pusat gempa bumi terletak di Laut Flores dan daerah yang berdekatan adalah pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau-pulau tersebut merupakan dataran yang berbatasan dengan perbukitan bergelombang hingga perbukitan terjal, serta tersusun oleh batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen dan batugamping, endapan Kuarter berupa endapan aluvial pantai, sungai, dan batugamping koral.

"Sebagian batuan berumur Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat lepas, lunak, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan guncangan gempa bumi. Selain itu pada morfologi perbukitan bergelombang hingga perbukitan terjal yang tersusun oleh batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan akan berpotensi terjadi gerakan tanah bila dipicu guncangan gempa bumi kuat maupun curah hujan tinggi," papar Andiani.

Dampak kejadian gempa bumi ini telah mengakibatkan terjadinya kerusakan bangunan di daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan. Menurut data Badan Informasi Geospasial (BIG) telah tercatat terjadi tsunami kecil dengan tinggi sekitar 7 centimeter. Berdasarkan informasi BMKG, guncangan gempa bumi terasa kuat di daerah Kabupaten Kepulauan Selayar yang terletak dekat dengan lokasi pusat gempa bumi pada skala intensitas VI MMI (Modified Mercally Intensity). Guncangan gempa bumi terasa pada skala IV MMI di daerah Ruteng, Labuan Bajo, Larantuka, Maumere, Lembata dan Adonara. Menurut data Badan Geologi daerah pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki potensi tinggi tsunami di garis pantai sekitar 2,9 meter.

Terkait kejadian gempa bumi merusak di Laut Flores, Badan Geologi merekomendasikan agar:

(1) Masyarakat tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2) Bagi penduduk yang rumahnya mengalami kerusakan agar mengungsi ke tempat aman sesuai dengan arahan dari BPBD dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar.

(3) Bangunan di Kabupaten Kepulauan Selayar harus dibangun dengan konstruksi bangunan tahan guncangan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan. Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi.

(4) Pantai di Kabupaten Kepulauan Selayar tergolong rawan tsunami, oleh karena itu harus dilakukan upaya mitigasi tsunami.

(5) Kejadian gempa bumi ini diperkirakan berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi. Oleh karena itu direkomendasikan agar penduduk mewaspadai dampak bahaya ikutan tersebut. Apabila menemukan retakan tanah pada bagian atas bukit yang berbentuk melingkar ke arah lembah, harap diwaspadai karena dapat memicu terjadinya gerakan tanah yang dapat dipicu oleh curah hujan tinggi dan guncangan gempa bumi kuat.