Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) angkat bicara terkait kasus kejahatan seksual yang belakangan ini kian meningkat. Relasi yang tidak imbang antara pelaku dan korban membuat geram publik. 

Oleh karena itu, kata Komisioner KPAI, Jasra Putra, Negara harus berbuat lebih untuk mengatasinya.

"Seperti tidak ada yang mampu berbuat lebih, dengan barisan korban yang begitu banyak, bahkan ada yang memilih bunuh diri sebelum mendapat keadilan. Sebegitu timpangkah perlakukan hukum di mata para korban sehingga tidak ada keberanian melawan malah memutuskan bunuh diri," kata Jasra dalam keterangan persnya.

Jasra menjelaskan bahwa contoh paling nyata terjadi di Bandung, Jawa Barat. Para santri bisa bertahun-tahun menjadi korban yang berkepanjangan. Tanpa terdeteksi oleh regulasi pengawasan, tanpa orang tua korban melapor, bahkan tak tersentuh.

Padahal, eksploitasi seksual dalam rangka pesantren menjadi kedok untuk memajukan usaha pelaku sudah berlangsung lama. Bahkan, ada 8 bayi dan 2 santri hamil akibat perbuatannya.

KPAI berharap dengan prosesnya yang sudah lengkap atau P21 di kejaksaan, pelaku segera diadili. Artinya, ada proses penting mengungkapkan fakta seperti penyalahgunaan kepercayaan orang tua, penyalahgunaan ketika anak dalam ruang kelas, hingga penyalahgunaan ijin di beberapa hotel dengan membawa anak untuk praktek kejahatan seksual.

Pelaku, tambah Jasra, tidak hanya melakukan kejahatan seksual, tapi juga pengembangan pesantren dan memperkaya sendiri. Pengembangan dan pembuktian terbalik bisa dilakukan kepolisian, jaksa dan pengadilan sehingga siapa saja yang terlibat bisa dikembangkan.

Selain pentingnya dorongan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) agar segera disahkan, KPAI mengingatkan bahwa beragamnya bentuk pola pengasuhan belum semuanya diakomodir dalam regulasi saat ini.

Oleh karena itu, perlu payung regulasi pengasuhan setingkat UU agar kejahatan serupa bisa diminimalisir dan negara bisa berbuat lebih dalam rangka memberi dampak sistemik perlindungan anak dalam dunia pengasuhan.

"Jadi tindakan mengecam dan menghukum berat harus berlanjut pada upaya upaya yang sistemik dalam melindungi anak anak yang terlepas pengasuhan, berpindah pengasuhan dari kejahatan seksual," katanya.

Untuk 12 santri di Bandung, kabarnya sudah dari Mei kasus ini berproses, dan belakangan setelah diketahui pelaku ditahan, dan kabar terakhir pesantren ditutup yang diwarnai berbagai kecaman masyarakat.