Konstestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mulai terasa denyut. Beberapa nama telah mencuat meramaikan bursa bakal calon presiden (Capres). Panasnya, suhu politik membuat parpol sudah mulai terang-terangan mendorong, menjajaki, dan mendekati nama-nama capres yang beredar. 

Pengamat Komunikasi Politik Heri Budianto mengatakan melihat situasi politik ke depan dan mengacu pada realitas politik Pilpres lalu jika ingin unggul maka harus dengan strategi komposisi yang pas.

"Parpol harus memadukan komposisi capres-cawapres secara pas. Sehingga dapat menang dalam kontestasi politik," ujar Heri, Jumat (3/12/2021).

Dia menjelaskan realitas politik 2004 menunjukkan pasangan nasionalis religius unggul yakni SBY-JK. Sosok Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla dianggap representasi tokoh Islam dan JK adalah tokoh luar Jawa khususnya timur.

Menurutnya, siklus 10 tahun terjadi lagi di Pilpres 2014 saat Jokowi berpasangan dengan JK kembali. Ini lagi-lagi merepresentasikan nasionalis religius dan Jawa-luar Jawa.

"Suka tidak suka, ini siklus 10 tahunan dan jatuhnya 2024 adalah waktunya," kata Heri dikutip Sindonews.

Sebab dalam siklus 10 tahunan itu, lanjutnya, incumbent tidak dapat maju sehingga capres-cawapres harus mulai dari nol semua. 

"Dan pasangan itu, suka tidak suka menggambarkan ke Indonesiaan," ucapnya.