Ketua Umun Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP PDI-P Puan Maharani bertemu di Istana, Rabu (17/11/2021) lalu. Pertemuan tersebut dinilai bakal menguatnya koalisi antara Gerindra dan PDIP.

Besar kemungkinan duet antara Prabowo dan Puan Maharani bakal terwujud pada perhelatan Pilpres 2024. "Duet Prabowo-Puan berpeluang besar terwujud karena beberapa faktor," kata Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam, Selasa kemarin kepada wartawan.

Umam menyebut faktor pertama adalah tidak ada kendala batasan threshold karena PDIP memiliki saham politik 20 persen dan Gerindra sekitar 12 persen dari Pemilu 2019. Jika presidential threshold 20 persen, Prabowo-Puan bisa melenggang di Pilpres 2024 dengan dua partai saja.

Alasan kedua, kata Umam, PDIP dan Gerindra merupakan representasi partai yang menggunakan sistem kepemimpinan dengan model 'demokrasi terpimpin' yang akan lebih memudahkan pengambilan keputusan strategis.

Meskipun model demokrasi terpimpin sebenarnya tidak ada dalam varian teori demokrasi dan tidak merepresentasikan karakter demokratis itu sendiri, pola semacam itu disebut Umam memang lebih efektif untuk mengambil keputusan.

"Karena mudah menekan terjadinya dinamika dan kritisisme internal partai, terutama para kader yang tidak puas dengan keputusan partai," ujar Umam.

Alasan ketiganya, kata Umam, terkait elektabilitas Prabowo Subianto di sejumlah lembaga survei. Ini disebut bisa menjadi modal Prabowo menjadi calon presiden untuk Puan Maharani.

"Ketiga, elektabilitas Prabowo masih konsisten masuk dalam radar tinggi hampir semua survei. Hal itu bisa mengompensasi sekaligus menjadi bargaining position di hadapan PDIP, yang mana elektabilitas Puan masih perlu terus ditingkatkan. Artinya, realitas elektabilitas Prabowo-Puan itu bisa menjadi trade-off bagi elektabilitas PDIP dan Gerindra, yang trennya berkebalikan," kata Umam.

Meskipun pasangan Prabowo-Puan memungkinkan untuk didorong ke kontestasi 2024, Umam menyebut keduanya masih butuh beberapa hal sebagai pelengkap.

"Prabowo-Puan masih perlu membutuhkan elemen tambahan baru, yakni kekuatan partai politik Islam. Jika hanya berbasis pada PDIP-Gerindra, pasangan Prabowo-Puan hanya akan mengambil ceruk massa nasionalis, dan berpotensi berhadap-hadapan secara diametral dengan kekuatan politik Islam itu sendiri," ujarnya.