Bank Indonesia (BI) bicara soal pentingnya penguatan industri pengolahan dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk menjadikan industri Tanah Air menjadi faktor utama penopang pertumbuhan ekonomi.

Menurut Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Wira Kusuma, masih baiknya kinerja perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga 2021, memang didukung peningkatan perdagangan ke luar negeri, terutama ekspor ke China sebagai mitra dagang utama.

Sayangnya, sebagian besar produk yang diekspor ke China adalah komoditas mentah. Ekspor paling banyak ke Negeri Tirai Bambu adalah bahan bakar mineral, besi dan baja, hingga minyak nabati.

Wira menilai kondisi seperti itu tidak boleh dibiarkan terjadi terus menerus. Atas dasar itulah dia menekankan pentingnya pemerintah melakukan hilirisasi. "Memang benar selama ini kita menikmati ekspor ke China. Namun pemerintah dalam hal ini sangat mengerti kita tidak boleh terus-terusan menggunakan sektor komoditas," ujar Wira dalam diskusi dengan wartawan terkait perkembangan ekonomi di JW Marriott Hotel Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (20/11/2021).

Langkah untuk menggenjot industri pengolahan dalam negeri, kata Wira, sejalan dengan keinginan Presiden Jokowi yang menegaskan larangan melakukan ekspor bahan mentah pada 2022.

Kebijakan ini juga tercermin dengan mulai digencarkannya pembangunan fasilitas smelter. Teranyar yang sudah dilakukan groundbreaking adalah Smelter milik PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur. "Pak Jokowi juga menyampaikan hilirisasi smelter di Gresik. Itu adalah upaya positif dari pemerintah, untuk bagaimana kita lebih advance lagi dari sisi ekspor tidak hanya raw material," ujarnya.