Rahaf alQunun kembali jadi perbincangan publik usai mempromosikan akun OnlyFans beberapa hari lalu. OnlyFans adalah layanan berbayar untuk berlangganan konten eksklusif dari kreator. Namun banyak kreator yang memanfaatkannya untuk menjual konten dewasa.

"Tidak akan ada konten eksplisit di halamanku. Jika kamu tidak menyukainya maka jangan berlangganan! Halaman ini hanya untuk penggemar sejati dan kamu dapat meminta apapun yang ingin dilihat atau lakukan atau bicarakan selama tidak eksplisit,” kata Rahaf.

"Semua materi di OnlyFans-ku adalah milikku. Ini termasuk semua foto dan video, bahkan setelah dibeli. Menyalin, screenshot, merekam layar, memperbanyak, mencetak, mengedit, atau bahkan memutar kontenku di luar OnlyFans untuk orang lain adalah melanggar hukum," paparnya. 

Setelah mempromosikan akun OnlyFans, Rahaf alQunun mengucapkan terima kasih kepada para penggemar yang telah mendukungnya.

Siapa Rahaf alQunun? Namanya mulai mencuat pada tahun awal Januari 2019, ketika ia kabur dari keluarganya yang tengah berlibur di Kuwait. Saat itu Rahaf masih berusia 18 tahun.

Rahaf semula berencana melarikan diri ke Australia melewati Bandar Udara Suvarnabhumi, Bangkok, ibu kota Thailand. Namun setibanya di Bangkok, Rahaf seperti dilansir BBC, mengaku paspornya disita oleh pejabat Arab Saudi dan dipaksa kembali ke Kuwait untuk menemui keluarganya.

Sebagai upaya mencegah pengusiran oleh pihak berwenang Thailand, Rahaf membarikade diri dalam kamar hotel di lingkungan bandara, sambil mengetwit kondisinya, perlakuan yang dialami dan permintaan suaka ke Australia, Inggris, Kanada dan Amerika Serikat.

"Saya unggah cerita dan foto saya di media sosial dan ayah saya begitu marahnya karena saya melakukan ini... Saya tidak bisa belajar dan bekerja di negara saya, jadi saya ingin bebas dan belajar dan bekerja sebagaimana saya inginkan."

Curhatan Rahaf di media sosial memicu perhatian dunia internasional. Tak urung #SaveRahaf pun viral di media sosial ketika itu

Setelah berlangsung drama selama sekitar 48 jam, Rahaf akhirnya keluar dari lingkungan bandara setelah berunding dengan perwakilan Badan Pengungsi PBB, UNHCR, dan pihak berwenang Thailand.

Ketika itu Rahaf mengaku sudah keluar dari agama Islam dan akan dibunuh oleh keluarganya jika ia dipaksa pulang.

Berdasarkan hukum di Arab Saudi, seseorang yang murtad dapat dijatuhi hukuman mati.

Selanjutnya, usai insiden di Thailand, Rahaf mendapat suaka dari pemerintahan Perdana Menteri Justin Trudeau. Ia tiba di Bandara Internasional Pearson, Toronto, Kanada, dengan menggunakan maskapai Korean Air dari Seoul pada Sabtu (12/01/2019).

Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland menyebut Rahaf sebagai 'remaja baru Kanada yang sangat berani.'

"Dia wanita muda pemberani yang sudah melewati banyak kesulitan. Saat ini, dia akan menuju rumah barunya," tutur Freeland.

Sementara sebelumnya, PM Trudeau mengatakan kepada awak media bahwa Kanada memberikan suaka kepada Rahaf berdasarkan rujukan dari UNHCR. "Kanada akan selalu membela hak asasi manusia dan wanita di seluruh dunia," tegas PM Trudeau.

Usai mendapat suaka, Rahaf berterima kasih kepada para pengikut media sosialnya atas dukungan mereka terkait kasusnya tersebut.

"Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah mendukungku dan menyelamatkan hidupku. Sungguh, aku tidak pernah memimpikan cinta dan dukungan ini," kata Rahaf.

Keluarganya juga sempat merilis pernyataan bahwa mereka tidak mengakui Rahaf alQunun yang kabur dari Arab Saudi.

Saat ini, Rahaf tetap tinggal di Toronto, Kanada. Hal itu terlihat di bio Instagram @rahafcaofficial yang kini memiliki 256 ribu pengikut. Ia sangat aktif di Instagram dengan membagikan potret seorang diri mengenakan pakaian yang terbuka.

Tak hanya itu, dia juga sering mengunggah quotes inspiratif yang berkaitan dengan perempuan, tips merawat tubuh hingga karya seni yang ia buat.