Upaya pemerintah menggenjot bauran energi baru terbarukan (EBT) melalui penerapan bahan bakar solar campuran fatty acid methyl ether (FAME) alias biodiesel 40 persen atau B40 hingga kini masih menemui tantangan. Salah satunya terkait melambungnya harga FAME sebagai campuran B40.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai program ini memang cukup penting untuk terus digenjot. Apalagi pemerintah mempunyai upaya untuk mengurangi penggunaan energi fosil dan target bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025.

Namun jika mengacu pada kondisi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang saat ini cukup mahal. Maka, menurut dia belum ada urgensi untuk melanjutkan peningkatan program B30 ke B40 dalam waktu dekat.

"Saya melihatnya program ini sementara ditunda dulu sampai nanti diatur kembali terkait dengan tata niaga CPO sebagai bahan FAME untuk biodiesel ini," kata Mamit, Senin (25/10).

Apalagi harga CPO sepanjang 2021 sudah meningkat 75 persen dibandingkan harga per akhir 2020. Sehingga dapat dipastikan akan berdampak juga pada kenaikan harga FAME yang cukup signifikan.

Tanpa adanya aturan domestic market obligation (DMO) atau kewajiban pemenuhan pasokan dalam negeri dan perbaikan tata niaga CPO, maka program ini akan cukup berat bagi Pertamina. Mengingat harga minyak dunia saat ini juga tengah dalam posisi yang cukup tinggi. Sehingga dipastikan menambah beban produksi solar.

"Mesti berhati-hati juga dalam kondisi seperti ini. Jangan sampai nanti justru akan memberatkan negara dan juga memberatkan badan usaha/pertamina," ujarnya dikutip Katadata.co.id.

Kementerian ESDM sebelumnya menyampaikan untuk menjalankan program B40 ini, setidaknya diperlukan dukungan semua pihak. Dimulai dari dukungan kalangan pabrikan kendaraan hingga segi pendanaan.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan pemerintah saat ini tengah menyiapkan rencana untuk melakukan sosialisasi program B40 ini ke masyarakat. Uji coba di lapangan dengan melibatkan pemangku kepentingan seperti produsen teknologi juga tengah disiapkan.

"Dengan proses seperti itu, enam bulan pertama di 2022 akan tetap di B30," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (22/10).

Pasalnya, pemerintah juga masih perlu memastikan dari segi pendanaan berjalan lancar. Mengingat selama ini pendanaan program biodiesel masih berasal dari pungutan ekspor sawit.

Sementara pungutan tersebut selama ini baru mencukupi untuk mendanai proyek B30 saja. "Pola sekarang tak cukup untuk mendukung B40. Untuk pastikan B40 jalan nilai pungutan harus diperbesar," ujarnya.