Maskapai penerbangan Pelita Air Service dikabarkan telah menyiapkan pesawat berbadan lebar untuk mengangkut penumpang. Pesawat itu rencananya melayani penerbangan berjadwal.

Saat ini maskapai tengah mengurus izin penerbangan air operator certificate (AOC) di Kementerian Perhubungan. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto membenarkan kabar mengenai proses perizinan tersebut.

“Saat ini sedang pengajuan AOC. Namun pengajuannya, seperti pesawat, belum secara spesifik,” ujar Novie saat dihubungi pada Senin, 25 Oktober 2021.

Pengajuan AOC diperlukan karena sebelumnya maskapai hanya melayani penerbangan sewa atau carter. Sedangkan ke depan, maskapai akan membuka penerbangan niaga berjadwal yang mengangkut penumpang secara reguler.

AOC diproses selepas maskapai mengantongi surat izin angkutan udara (SIAU). Sebagai perusahaan penerbangan, Novie memastikan Pelita Air telah memiliki SIAU tersebut.

Kendati begitu untuk menerbitkan sertifikat AOC, Kementerian Perhubungan perlu mengecek kelengkapan dokumen maskapai. Dokumen itu di antaranya kesiapan armada dan rencana rute penerbangannya.

“Mereka (Pelita Air) akan proses lanjut ke adendum AOC. Nanti di situ ada jenis pesawat, rutenya mana, itu yang akan kami cek, terutama untuk fungsi safety-nya (keamanannya),” ujar Novie dikutip tempo.co.

Komisaris Pelita Air Michael Umbas belum memberikan respons terhadap pesan instan yang dilayangkan Tempo ihwal pengajuan izin AOC tersebut. Adapun perizinan pembukaan rute penerbangan ini disebut-sebut akan mendukung program Holding Badan usaha Milik Negara (BUMN) Pariwisata. Pelita masuk sebagai anggota holding tersebut.

Sebelumnya juga santer dikabarkan bahwa Pelita tengah disiapkan untuk menggantikan Garuda Indonesia apabila proses restrukturisasi perusahaan pelat merah itu gagal. Garuda tengah mengalami beban utang yang nilainya disebut-sebut mencapai Rp 70 triliun dan terus bertambah.

Perihal informasi itu, Staf Khusus Menteri BUMN Bidang Komunikasi, Arya Sinulingga, angkat bicara. Ia mengatakan Garuda sedang menjajaki proses negosiasi dengan kreditur.

“Mudah-mudahan negosiasinya berhasil. Harapan kita sih negosiasi berhasil. Kalau ini berhasil, Garuda akan tetap bisa jalan,” ujar Arya.

Namun jika negosiasi gagal, pemerintah sebagai pemegang saham terbesar akan mencari opsi lain. “Kita akan carikan cara-cara, langkah-langkah, supaya kita tetap memiliki memiliki pesawat lah. Jadi kita tunggu aja bagaimana kondisi negosiasi,” kata Arya.