Namun, Faisal menilai, proyek food estate ini, momentumnya tidak tepat. Dikhawatirkan hanya membuang anggaran negara. Apalagi program ini memprioritaskan tanaman singkong yang tidak ada istimewanya karena bisa ditanam di mana saja. “Food Estate waduh ini ugal-ugalan bener. Jadi untuk menghasilkan singkong, uangnya triliunan, kan goblok. Dan, singkong itu bisa ditanam rakyat di mana-pun. Tidak membutuhkan tanah yang subur,” ujar Faisal Basri dikutip dari kanal YouTube FNN TV, Sabtu (23/10/2021).

Faisal mengatakan, food estate ini menjadi kebanggaab pemerintahan Jokowi. Pemerintah klaim, singkong yang akan ditanam akan diolah menjadi mie instan. Kemudian dijual dengan harga yang berbeda di pasaran. “Dibangga-banggakan untuk hasilkan mie instan. Satu bungkus Mie Instan Rp9.000, enggak ada yang beli rakyat. Wong Indomie cuma Rp3.000,” ucap Faisal.

Lebih parah lagi, kata Faisal, Kementerian Pertahanan yang dipercayai jadi komandan food estate singkong ini. “Dan yang jadi komandannya bukan Menteri Pertanian, tapi Menteri Pertahanan. Ini udah salah, kacau luar biasa. Akhirnya dimobilisasi tentara aktif. Kan udah nggak benar nih negara kayak begini,” ujarnya.

Selain itu, Faisal menyinggung program food estate di Kalimantan yang diharapkan bisa meramaikan Pelabuhan Kuala Tanjung di Kecamatan Sei Suka, Sumatera Utara sebagai jalur ekspor.

“Jadi agar pelabuhannya ramai, dibikin Food Estate. Dicari tanahnya, nggak ada, semua udah ditanami sawit. Beginilah cara mengelola negara ini? Saya tahu karena saya diundang oleh konsultannya orang Belanda. Jadi pantaslah utang menggelembung karena pendapatan turun terus,” tutur Faisal.