Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman mengatakan Presiden Joko Widodo mati-matian menghadirkan demokrasi. Pernyataa ini sampaikan merespons kritik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) tentang dua tahun pemerintahan Jokowi-Ma'ruf.

Fadjroel menegaskan tugas pemerintah adalah menjamin hak asasi, termasuk kebebasan berpendapat. Menurutnya, Jokowi berkomitmen untuk melaksanakan tugas itu.

"Presiden Joko Widodo berupaya mati-matian lah supaya memang demokrasi itu ada," kata Fadjroel dalam siaran di kanal Youtube Karni Ilyas Club, Minggu (24/10).

Fadjroel menyampaikan Jokowi punya cita-cita tersendiri soal demokrasi. Dia menyebut Jokowi ingin menyelaraskan demokrasi dengan kesejahteraan.

Dia menyebut beberapa negara berhasil menghadirkan kesejahteraan, tapi meninggalkan demokrasi. Fadjroel menyampaikan Jokowi tak mau hal itu terjadi di Indonesia.

"Presiden tantangan terbesarnya ini sampai tahun 2024 hingga menjelang ke 2045. Keinginan kita adalah ini (demokrasi dan kesejahteraan) bisa paralel. Ini memang tantangannya besar sekali," tutur Fadjroel dikutip CNN Indonesia.

Menurut Fadjroel, Jokowi telah membuktikan komitmennya terhadap demokrasi dalam beberapa waktu terakhir. Misalnya, dengan menegur Kapolri usai aksi represif kepolisian terhadap peserta demonstrasi.

Selain itu, Jokowi juga turun langsung dalam kasus dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Saiful Mahdi. Jokowi memberi amnesti kepada akademisi yang terjerat UU ITE itu.

"Berupaya Presiden Joko Widodo untuk melakukan, melindungi hak untuk melakukan berkumpul, berpendapat, menyampaikan pikiran secara lisan dan tulisan," ujarnya.