Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto masih mengadu siapa yang lebih hebat SBY atau Jokowi. Bahkan, menawarkan beasiswa bagi yang ingin melakukan kajian akademis untuk membandingkan kinerja antara Presiden Jokowi dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Hal tersebut disampaikan Hasto merespon sindiran dari Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani yang menilai dirinya tertidur selama kepemimpinan SBY.

Menurut Hasto, diperlukan kajian akademis agar nantinya perbandingan kinerja antara SBY dan Jokowi menjadi objektif dan tidak saling klaim saja.

"Sebenarnya yang paling objektif kalau dilakukan kajian akademis, dengan menggunakan mix methode," jelasnya kepada wartawan di Kantor PDIP Perjuangan, Jakarta Pusat, Sabtu (23/10).

Dari segi kuantitatif, menurutnya bisa dilakukan dengan cara membandingkan pembangunan infrastruktur yang terjadi di dua kepemimpinan presiden tersebut.

"Bagaimana jumlah jembatan yang dibangun antara 10 tahun Pak SBY dengan Pak Jokowi saat ini saja. Jumlah pelabuhan, jalan tol, lahan-lahan pertanian untuk rakyat, bendungan-bendungan untuk rakyat, itu kan bisa dilakukan penelitian yang objektif," tuturnya.

Hasto dikutip CNN Indonesia bahkan rela merogoh kocek pribadinya agar perbandingan kinerja itu objektif dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

"Sehingga tidak menjadi rumor politik, tidak jadi isu politik, tapi berdasarkan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan aspek objektivitasnya," pungkasnya.

Sebelumnya, Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani melayangkan kritik kepada Pemerintahan Jokowi. Kamhar menilai, selama ini Jokowi terlalu banyak menggelar rapat, bahkan bisa empat sampai lima kali dalam sepekan.

Sementara mengutip pidato mantan Wapres Jusuf Kalla, yang pernah mendampingi SBY dan Jokowi, Kamhar menyebut pengambilan keputusan di masa SBY dilakukan lebih ringkas, terarah, dan cepat.

Kamhar pun menyentil balik Hasto karena dianggap tidak menyadari fakta sebelum era pemerintahan Jokowi. Bukan hanya salah alamat, Kamhar menilai kritik PDIP bisa jadi ditujukan jauh sebelum SBY.

"Karenanya mengutip dan memodifikasi yang lagi viral dan kekinian di media sosial 'Hei Hasto, Bangun, ko tidor terlalu miring, bangun. Nanti ko pe otak juga ikutan miring'," kata Kamhar kepada CNN Indonesia, Jumat (22/10).