Indonesia sebagai negara eksportir gas bumi mendapat dampak positif. Gas dari Indonesia jadi rebutan. Terbukti dengan permintaan dari kontrak yang lebih besar ketimbang produksi gas Indonesia.

"Kontraknya lebih besar ketimbang kemampuan pasokan. Kegiatan komersial SKK Migas ini sangat masif sampai harga gasnya enggak ada yang bisa dijual. Supply agak kurang sehingga komersialnya perlu direm sedikit," ujar Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief Setiawan Handoko dalam konferensi pers virtual, Selasa (19/10/2021).

Gas pipa untuk ekspor dan domestik tercatat terjadi kekurangan supply. "September 2021 ini diperkirakan masih ada selisih kurang supply. Total kebutuhan yang ada hampir 4.000 BBTUD, tapi pasokannya di Oktober 2021 hanya 3.880 BBTUD," kata dia.

Harga gas liquefied natural gas (LNG) melonjak signifikan. Indonesia kini bisa mengekspornya dengan harga rata-rata USD 27,5 per MMbtu. Jauh di atas harga rata-rata di dalam negeri sebesar USD 6-10 per MMbtu.

"Kita jual 4,5 standar kargo uncommitted kita jual di September, Oktober, dan November. Rata-rata 4 kargo ini harganya 27,5 USD per MMbtu. Sehingga proyeksi penerimaan USD 350 juta hanya dari 4 kargo ini," jelasnya.

Proyeksi lifting LNG di 2022 juga naik. Bila di 2021 proyeksinya lifting LNG mencapai 201 kargo, di 2022 diproyeksikan mencapai 211,9 kargo. "Proyeksi lifting 2022 211,9 dengan susunan Bontang 93,6 kargo, Tangguh 118,3 kargo. Domestik 49,8 kargo dan ekspor 162,1 kargo," tuturnya.

Sebelumnya, Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini menyebut jumlah produsen batu bara maupun gas masih banyak, begitu juga dengan cadangannya.

Namun yang jadi penyebab utama krisis energi ini, menurut Rudi, karena transisi energi yang terlalu gegabah tanpa perhitungan matang. Perusahaan-perusahaan raksasa energi fosil berbondong-bondong lari ke energi baru terbarukan. Sementara pasokan dari energi baru terbarukan ternyata belum mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan industri.