Kementerian Perhubungan cq Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui Kantor Distrik Navigasi (Disnav) Kelas III Kendari menggelar kegiatan Padat Karya di wilayah Kabupaten Konawe Kepulauan. Fokus padat karya adalah pengerjaan akses jalan menuju Menara Suat Tanjung Pemali yang sebelumnya terisolir dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan.

Kegiatan Padat Karya tersebut berlangsung di Menara Suar Tanjung Pemali yang berada di Pulau Wawonii yang terletak di Kabupaten Konawe Kepulauan. Akses jalan di pulau tersebut masih berupa tanah sehingga para penjaga Menara Suar dan warga sekitar harus berjalan kaki saat membawa logistik.

Kegiatan Padat Karya ini dihadiri langsung oleh Wakil Ketua Komis V DPR RI Ridwan Bae, Wakil Bupati Konawe Kepulauan, Forkopimda Kabupaten Konawe beserta jajaran serta stakeholder terkait lainnya.

Kepala Disnav Kelas III Kendari, Abdul Kasim dalam sambutannya saat membuka acara mengatakan bahwa Padat Karya tersebut diikuti oleh 40 orang masyarakat sekitar dan berlangsung selama 10 hari.

“Padat karya berlangsung selama 10 hari dengan upah Rp 120.000 per orang per harinya,” ujarnya, Senin (12/10).

Padat karya ini berlangsung di Menara Suar Tanjung Pemali meliputi pembuatan jalan setapak yang berjarak 120 M dan pembersihan lingkungan sekitarnya.

Dia menjelaskan kegiatan ini juga bertujuan untuk menghadirkan negara ke tengah - tengah masyarakat, sehingga tercipta solidaritas dan sinergi dalam upaya menciptakan kesejahteraan bersama, khususnya bagi masyarakat sekitar.

“Kegiatan padat karya ini dilakukan secara swakelola agar dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat,” ungkapnya.

Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan secara berkelompok dengan diawasi oleh tenaga terlatih yang berasal dari unsur masyarakat untuk memastikan hasil pekerjaan berkualitas dan mengutamakan penggunaan tenaga kerja yang direkrut dari masyarakat mempertimbangkan dan memprioritaskan tenaga kerja yang tidak memiliki keahlian khusus, tidak bekerja dalam waktu yang lama, dan mempertimbangkan juga masyarakat yang memerlukan pekerjaan guna menyambung kelangsungan perekonomian.

Adapun tanah yang dijadikan akses jalan menuju Menara Suar Tanjung Pemali tersebut merupakan tanah hibah dari warga bernama Ateng. Proses hibah tanah tersebut difasilitasi oleh Kepala Desa Langara Tanjung Batu.

“Terima Kasih kepada Bapak Ateng yang menghibahkan tanah 260 Meter persegi kepada Kantor Disnav Kelas II Kendari,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Konawe Kepulauan Andi Muhammad Lutfi menyampaikan apresiasi atas adanya program Padat Karya membuka akses jalan tersebut.

“Kami selaku Pemda mengucapkan terima kasih atas pengerjaan pertama yang hari ini dilaksanakan oleh Disnav Kendari,” ujarnya.

Menurutnya, pembuatan akses jalan sangat membantu perkembangan infrastruktur di daerah tersebut. Terutama wilayah Kabupaten Konawe Kepulauan merupakan daerah baru hasil pemekaran yang baru berusia 7 tahun.

“Kami mengucapkan terima masih dan penghargaan yang luar biasa bahwa di Pulau Kecil ini sangat diperhatikan oleh pemerintah pusat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komis V DPR RI Ridwan Bae menjelaskan bahwa kegiatan padat karya ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah untuk mendorong perekonomian masyarakat terutama yang terdampak oleh pandemi.

Dia yang merupakan putra asli Kendari menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Padat Karya di daerahnya tersebut.

“Padat Karya ini memberikan kesempatan kerja pada masyarakat sehingga akan terjadi perputaran ekonomi. Makanya saya berterima kasih sebesar-besarnya (atas terselenggaranya padat karya tersebut),” ujarnya.

Sementara itu, Ateng yang merupakan pemilik tanah hibah mengatakan bahwa dia menghibahkan tanah tersebut untuk mendukung niat baik Disnav Kelas II Kendari untuk membuat akses jalan tersebut.

“Dari Disnav kan ingin membuat jalan supaya langsung (aksesnya), saya merasa itu bagus,” ujarnya.

Selain itu, Ateng juga berharap dengan adanya proses pengerjaan jalan melalui kegiatan Padat Karya ini dapat menjadi jalan rejeki untuk rekan-rekannya.

Niat tulus Ateng tersebut muncul akibat banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Semula sebagian besar mereka bekerja sebagai nelayan, namun akibat cuaca yang sering tidak bersahabat mereka sudah lama tidak melaut dan tidak memperoleh penghasilan.

“Sekarang saya rasa susah sekali kerjaan makanya saya hibahkan tanah untuk jalan juga biar teman-teman bisa dapat pekerjaan,” tutupnya.