Apa yang disebut sudah dirindukan oleh para siswa akhirnya diwujudkan pemerintah melalui Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang digelar secara terbatas. 

PTM terbatas ini diberlakukan bagi wilayah yang termasuk zona Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3, 2, dan 1.

Uji coba PTM terbatas ataupun simulasi PTM dilakukan sebelum pembelajaran diterapkan. Akan tetapi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat, kasus penularan Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 selama PTM terbatas diberlakukan.

Berdasarkan data Kemendikbudristek per Rabu (22/9), 1.296 sekolah melaporkan klaster COVID-19 setelah PTM terbatas digelar. Terdapat 11.615 siswa positif COVID-19. Data ini dikumpulkan dari 46.500 sekolah yang mengadakan PTM terbatas per 20 September 2021.

Artinya, data jumlah sekolah dan siswa positif COVID-19 ini hanya dalam hitungan hari. Memang, secara persentase, jumlah sekolah yang melaporkan klaster penularan COVID-19 kira-kira hanya 2,78 persen dari total sekolah yang menggelar PTM.

Namun, yang menjadi perhatian adalah rentang waktu kejadian. Hanya dalam hitungan hari penularan virus terjadi pada nyaris 1.300 sekolah. Data statistik yang sejatinya merisaukan karena virus korona mudah sekali menular.

Belum lagi mengingat siswa tersebut tak tinggal sendirian di rumahnya. Apakah sang anak tinggal bersama kakek neneknya yang rentan tertular? Atau ayah bundanya memiliki penyakit penyerta, yang bisa membahayakan diri jika tertular COVID-19.

Apalagi, jika melihat lebih perinci data klaster COVID-19 di sekolah, kekhawatiran penularan lebih luas mencuat. Data Kemendikbudristek menyebutkan, dari 1.296 sekolah yang melaporkan klaster penularan COVID-19, terbanyak dari jenjang SD. Ada 581 SD yang melaporkan terjadinya klaster penularan.

Berikutnya, jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) sebanyak 525 sekolah, 241 sekolah jenjang SMP, 170 sekolah jenjang SMA, 70 sekolah jenjang SMK, dan 13 sekolah luar biasa (SLB). Jumlah siswa yang tertular juga terbanyak dari tingkat SD.

Siswa SD yang tertular COVID-19 selama PTM terbatas adalah 6.908 anak. Ada 3.174 guru SD yang juga positif COVID-19. Adapun di tingkat SMP 2.220 siswa dan 1.502 guru positif COVID-19. Selanjutnya, di jenjang PAUD terdapat 953 siswa dan 2.007 guru positif COVID-19.

Data tersebut tentu harus menjadi bahan evaluasi. Bukan hanya dari segi dunia pendidikan, melainkan pula tinjauan dari aspek kesehatan masyarakatnya.

Apakah angka-angka ini menjadi batasan bahwa penularan akan meluas? Ataukah data tersebut menyusut dengan sendirinya karena penanganan kasus penularan dilakukan dengan baik oleh para pemangku kepentingan di daerah?

Kita semua harus belajar dari kasus varian Delta yang meledak pada Juli-Agustus lalu. Kasus varian Delta yang semula sporadis hanya di titik tertentu ternyata mengganas, bahkan meluas ke banyak daerah lain. Kasus positif harian melonjak tajam, kasus kematian tinggi.

Keinginan mendorong pembukaan sekolah demi mengejar ketertinggalan pembelajaran akibat pandemi, semestinya diiringi perhitungan matang. Semangat agar anak didik mendapatkan pengajaran paripurna melalui PTM, jangan sampai mengabaikan  kesehatan siswa, keluarga, dan lingkungan.

Evaluasi dan pengawasan oleh regulator di daerah harus lebih detail dan menyeluruh. Tegas terhadap pelanggaran dan sigap mengalienasi kemunculan klaster.

Jika ditemukan pelanggaran protokol kesehatan oleh pihak sekolah ataupun orang tua siswa, PTM harus dihentikan. Bila ada klaster penularan baru, secepatnya dilaporkan ke pihak terkait dan segera ditangani, jangan sampai keburu menular.

Pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, sekolah, orang tua, ataupun siswa harus saling mendukung agar PTM tak memunculkan klaster baru.

Prakondisi sebelum PTM digelar dan simulasi harus dilakukan secara benar, bukan dilakukan asal-asalan. Memitigasi penularan COVID-19 adalah keniscayaan agar PTM tak menjadi klaster baru, yang bisa membahayakan kesehatan jiwa dan raga. 

Ternyata bukan hanya di Indonesia, klaster sekolah bahkan sudah terjadi sebelumnya di beberapa negara, termasuk China dan Singapura yang mengklaim bahwa lebih dari 80 persen populasinya sudah menerima vaksin.

Klaster Besar dari Sekolah Singapura

Dua hari berturut-turut Singapura melaporkan harian kasus COVID-19 di atas seribu. Per Selasa (21/9/2021) ada 1.173 kasus baru Corona, 1.038 di antaranya adalah penularan komunitas, dan 135 kasus dari penghuni asrama.

Ada tiga kasus kematian COVID-19 yang dilaporkan, ketiganya lansia di atas 60 tahun, jumlah yang meninggal karena Corona di Singapura menjadi 65 orang. Ditambah lagi, Singapura mencatat 5 kasus baru Corona impor sehingga total kasus baru mencapai 1.178 kasus.

Kasus infeksi berat atau serius yang perlu perawatan rumah sakit juga meningkat. Dalam 4 hari bertambah sekitar 200 kasus, dari semula 813 kasus COVID-19 rawat inap, kini jumlah pasien yang dirawat sudah di atas seribu orang.

"Ada 1.109 pasien yang dirawat di rumah sakit, sebagian besar dalam keadaan sehat dan dalam pengawasan," kata Depkes setempat, dikutip dari Channel News Asia.

Jumlah pasien yang memerlukan suplementasi oksigen meningkat dari sebelumnya penambahan 90 orang, kini bertambah 147 kasus. Dari 147 kasus tersebut, 17 di antaranya tengah kritis dirawat dalam unit perawatan intensif (ICU).

Di antara mereka yang jatuh sakit parah adalah 135 manula di atas usia 60 tahun.

Meski demikian, selama 28 hari terakhir, 97,9 persen kasus lokal tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan. Total ada 246 kasus yang membutuhkan suplementasi oksigen dan 23 berada di ICU. Dari jumlah tersebut, 54,3 persen divaksinasi penuh dan 45,7 persen divaksinasi sebagian atau tidak divaksinasi.

Banyak klaster besar dilaporkan di Singapura. Salah satunya terjadi di pusat pendidikan LearnJoy, total sembilan klaster di sana tengah dipantau Departemen Kesehatan Singapura. Gugus ini memiliki total 10 kasus, terdiri dari satu anggota staf dan sembilan siswa.

Klaster di My Little Campus di Yishun telah meningkat setelah ditemukan 5 kasus baru. Ada total 24 infeksi di klaster tersebut terdiri dari dua anggota staf, 20 siswa dan dua anggota rumah tangga dari kasus tersebut.

Kemudian, klaster baru COVID-19 dilaporkan di Pfizer Asia Pasifik, telah meningkat menjadi 37 kasus baru setelah lima kasus ditemukan pada Selasa kemarin.

Sementara, 10 kasus baru lain juga dilaporkan di klaster Blue Stars Dormitory, jumlah total infeksi di sana adalah 133 orang.

Depkes mengatakan 82 persen populasi Singapura telah menyelesaikan vaksinasi lengkap mereka atau menerima dua dosis vaksin COVID-19, sementara 84 persen telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19 pada Senin.

Lebih dari 8,97 juta dosis telah diberikan di bawah program vaksinasi nasional, mencakup sekitar 4,57 juta orang, dengan 4,45 juta telah menyelesaikan rejimen penuh dua dosis.

China Tutup Sekolah dan Kembali Belajar Online

COVID-19 varian Delta diperkirakan mulai masuk ke sebuah sekolah dasar di Putian di Tenggara China. Pihak berwenang pun memberlakukan sejumlah langkah pencegahan termasuk membatasi perjalanan dan menutup sekolah untuk mengatasi penyebaran.

Pihak otoritas Putian, sebuah kota berpenduduk 3,2 juta di provinsi pesisir Fujian, memerintahkan pengujian seluruh penduduknya kemarin, Selasa (14/09/2021). Pengujian dilakukan setelah ditemukan kasus seorang pria yang kembali dari Singapura menjadi sumber penyebaran COVID-19 ke lebih dari 100 orang.

Komisi Kesehatan Nasional mengatakan terdapat 59 kasus baru yang ditularkan secara lokal pada 13 September. Jumlah kasus ini naik dibandingkan sehari sebelumnya 22 kasus di Fujian.

Hanya dalam empat hari, total 102 kasus komunitas telah dilaporkan di tiga kota Fujian, termasuk Xiamen, yang berpenduduk lima juta jiwa.

Sumber wabah diduga berasal dari orang tua dari seorang anak di Sekolah Dasar Putou. Dia baru kembali dari Singapura ke China bulan lalu, dan baru selesai dikarantina pada Agustus lalu. Namun saat dites covid-19 bulan ini ternyata positif.

Pria yang tak disebutkan namanya itu, memiliki anak berusia 12 tahun. Anak dan teman-temannya satu kelas dinyatakan tertular COVID-19 dan menjadi pasien pertama yang terdeteksi di klaster pekan lalu, tak lama setelah sekolah dibuka kembali.

COVID-19 kemudian menyebar melalui ruang kelas, menginfeksi lebih dari 36 anak, kata otoritas kota pada hari Selasa. Klaster ini adalah yang pertama kali terjadi di sekolah sejak awal pandemi.

Menurut surat kabar Global Times, virus corona telah memicu desakan agar anak-anak di bawah usia 12 tahun di China juga divaksinasi. Selain itu masa karantina juga diperpanjang dari yang diberlakukan saat ini yaitu 14 hari.