Lonjakan kasus infeksi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 terjadi di Laos. Akibatnya ibu kota Vientiane ditutup dan melarang akses perjalanan antara provinsi-provinsi yang dilanda lonjakan kasus.

Dilansir dari AFP, lonjakan kasus selama akhir pekan terkait dengan klaster baru yang ditemukan di pabrik garmen Laos. Sebagian besar pekerja terinfeksi virus corona varian Delta yang sangat menular.

Walikota Vientiane, Atsaphangthong Siphandone menyatakan penguncian ketat selama dua minggu sejak Minggu. Dia juga memerintahkan penduduk untuk tinggal di rumah mereka kecuali untuk membeli makanan, obat-obatan atau pergi ke rumah sakit.

Perjalanan antara tujuh provinsi yang terkena dampak parah lainnya juga dilarang. Sementara masyarakat yang ingin masuk ke Vientiane harus melakukan karantina selama 14 hari.

Semua pertemuan publik, termasuk bahkan upacara keagamaan juga dilarang. Dikutip dari media pemerintah KPL, ini juga berlaku untuk kegiatan termasuk olahraga di luar ruangan dan menjual makanan jalanan.

KPL juga melaporkan bahwa setiap pelanggaran penguncian Vientiane akan mengakibatkan denda tiga juta kip atau sekitar US$ 310. Ini sekitar Rp 4,4 juta.

Sebelumnya negara komunis sempat lolos dari beban pandemi pada tahun 2020, dan pada Maret 2021 hanya melaporkan kurang dari 60 kasus. Jumlah kasus yang rendah sebagian disebabkan oleh uji tes yang terbatas.

Tetapi kemudian terjadi lonjakan sejak pertengahan April. Per Sabtu (18/09/2021), negara itu melaporkan 467 kasus baru infeksi komunitas, jadi total kasus harian tertinggi yang pernah tercatat.

Menurut kementerian kesehatan negara itu, Laos telah memberikan lebih dari 4,5 juta dosis vaksin, sebagian besar Sinopharm yang disumbangkan dari China dan vaksin Pfizer-BioNTech yang diperoleh melalui program COVAX.

Selasa (21/09/2021), Laos mencatat 331 kasus baru Covid. Saat ini total kasus aktif sebanyak 14.146. Menurut data Worldometers, ada total 19.730 kasus infeksi dengan 16 kematian, sejak pandemi masuk di 2020.