Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas menjelaskan, pada awalnya Blok Wabu merupakan bagian dari Blok B dalam kontrak karya yang dimiliki perusahaan sebelumnya.

Pada kontrak karya sebelumnya, Freeport Indonesia memiliki wilayah eksplorasi seluas 200.000 hektar, termasuk melakukan eksplorasi pada Blok Wabu.

Meski hasil eksplorasi menunjukkan kandungan emas yang ada di Blok Wabu cukup menjanjikan, namun Freeport Indonesia memutuskan untuk tidak melakukan penambangan di sana. "Jadi kami menyimpukan, bahwa kami tidak tertarik untuk menambang di situ. Kenapa? Bukan karena Wabu itu tidak berpotensi, tapi kami fokus di Grasberg," ujar Tony, dikutip dari kompas.com, Selasa (21/9/2021).

Ia menjelaskan, Freeport Indonesia telah melepas Blok Wabu kepada pemerintah bahkan sebelum tahun 2018.  Namun, pemerintah baru secara resmi menyatakan hal tersebut dalam Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 21 Desember 2018.

Pada IUPK Freeport Indonesia yang diterbitkan pemerintah, menyatakan bahwa wilayah tambang perusahaan hanya sekitar 9.900 hektar, yang dulu dikenal dengan Blok A. Sehingga Blok B atau Blok Wabu tak lagi menjadi bagian perusahaan. "Jadi Blok B nya tidak ada lagi (di IUPK Freeport Indonesia) yang ada hanya wilayah penunjang seluas 116.000 hektar," kata Tony.

Menurut dia, biaya eksplorasi Blok Wabu mencapai US$170 juta yang dikeluarkan secara kumulatif pada periode 1996-1997. Kandungan di dalamnya tak hanya emas, tetapi juga tembaga. Namun, tak sebesar di Grasberg.

Tony pun memastikan, Freeport Indonesia tak memiliki kepentingan apapun terhadap Blok Wabu, sebab sepenuhnya sudah diserahkan kepada pemerintah. Perusahaan pun telah memilih untuk fokus menggarap tambang emas Grasberg.

"Jadi Wabu tidak sama sekali bagian PTFI, kami tidak lagi punya kepentingan apa-apa di Wabu, karena sudah kami lepaskan dan serahkan kembali ke Kementerian ESDM," pungkas Tony.

Keputusan Freeport melepas Blok Wabu memang layak dipertanyakan? Apalagi kalau alasannya hanya sekedar ingin fokus menggarap Blok Grasberg. Apalagi, Blok Wabu ini, memiliki kandungan emas yang super jumbo.

Berapa kandungan emas di blok ini? Pada Oktober 2020, Senior Vice President for Exploration Division MIND ID, Wahyu Sunyoto menyebut, kandungan emas di Blok Wabu sedikitnya mencapai 8,1 juta ons.

Dikutip CNBCIndonesia, bila dikalikan dengan harga emas sekitar US$1.900 per troy ons, maka potensi nilai emasnya sekitar US$ 15,4 miliar. Atau setara Rp221,7 triliun (kurs Rp14.400/US$).

Wahyu mengatakan, jumlah sumber daya ini masih berdasarkan hasil perhitungan sumber daya pada 1999 untuk kategori measured (terukur), indicated (terkira) dan inferred (terduga). "Ada sekitar 117 juta ton dengan rata-rata 2,16 gram per ton emas dan 1,76 gram per ton perak, cut off grade, sekitar 1 gram per ton. Total sumber daya ada sekitar 8,1 juta ons emas," paparnya.

Wahyu mengatakan, tim eksplorasi Freeport sudah melakukan pendataan Blok Wabu secara tekno grafik, sehingga setiap lokasi nama keluarganya sudah ada. Oleh karena itu, lanjutnya, Blok Wabu sudah siap untuk kegiatan selanjutnya yakni konstruksi.

PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ ANTM) pun berencana menggarap Blok Wabu ini. Menteri BUMN Erick Thohir pun telah mengirim surat kepada Menteri ESDM Arifin Tasrif agar Antam bisa mengelola bekas lahan tambang Freeport Indonesia tersebut.