Pelaksana Tugasd (Plt) Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Giring Ganesha tidak rela Indonesia jatuh ke tangan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan yang ditudingnya sebagai pembohong. 

Elite Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Aria Bima bicara soal kepemimpinan dan menyinggung tugu sepatu buatan Anies di tengah pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Aria awalnya menyebut kinerja seorang pemimpin memang dinilai dari sinkronnya antara kata dan perbuatan. Menurutnya, pemimpin memang perlu bicara, tapi juga harus kerja nyata.

"Bung Karno pernah menegaskan bahwa memimpin itu adalah praktik dari satunya kata dan perbuatan. Pemimpin perlu bicara. Pemimpin harus kerja nyata. Dan antara bicara dan kerja nyata tersebut harus sinkron," kata Aria Bima saat dihubungi, Selasa (21/09/2021).

Aria lantas mengatakan, jika kata dan perbuatan tidak sinkron, akan timbul tuduhan pembohongan. Karena itulah, dia menyebut Anies bisa saja merangkai argumen tapi tetap rakyat Jakarta menanti bukti.

"Jika tidak sinkron antara kata dan perbuatan, potensial menimbulkan tuduhan pembohongan publik. Sebab, rangkaian argumen rasional bisa saja disampaikan. Tetapi pada umumnya rakyat menanti bukti," ucapnya.

Lebih lanjut, Aria lantas menyinggung kerja nyata Anies Baswedan. Dia menyoroti tugu sepatu yang dibangun Anies Baswedan saat pandemi COVID-19.

"Lantas apa parameternya? Kerja nyata, bahkan dalam hal kecil. Termasuk bikin patung sepatu yang bikin bingung itu," ujarnya.

Giring Tuding Anies Pembohong

Tudingan Anies Baswedan pembohong sebelumnya disampaikan oleh Giring Ganesha. Dia menuding Anies pura-pura peduli terhadap masyarakat yang menderita akibat pandemi COVID-19. Giring berharap jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan Anies.

Hal itu disampaikan Giring dalam sebuah video di akun Twitter PSI, @psi_id, Selasa (21/9/2021). Dalam video itu, Giring menjelaskan, dalam krisis, seorang pemimpin adalah panglima yang mengambil tanggung jawab dan menyampaikan kepada publik secara transparan soal situasi dan pilihan-pilihan yang dia ambil dalam merespons situasi.

"Gubernur Anies Baswedan bukanlah sebuah contoh orang yang bisa mengatasi krisis. Indikator utama dalam menilai kegagalan Gubernur Anies Baswedan adalah melihat bagaimana cara Gubernur DKI Jakarta membelanjakan uang rakyat selama pandemi," kata Giring.

Giring kemudian menuding APBD Jakarta yang begitu besar dibelanjakan Anies untuk kepentingan sebagai calon presiden 2024. Anies dinilai mengabaikan desakan masyarakat untuk membatalkan rencana balapan mobil Formula E.

"Uang muka dan jaminan bank bagi penyelenggaraan balap mobil Formula E dibayar Anies pada saat pemerintah secara resmi mengumumkan negara dalam keadaan darurat karena pandemi COVID-19. Uang rakyat sebanyak itu dihabiskan oleh Gubernur Anies Baswedan di tengah penderitaan rakyat yang sakit, meninggal, dan hidupnya susah karena pandemi," ujar Giring.

"Uang Rp 1 triliun dia keluarkan padahal rakyat telantar tidak masuk ke rumah sakit yang penuh. Rakyat kesulitan makan karena kehilangan pekerjaan," sambungnya.

Anies juga disebut Giring menyerah, tidak bisa mengatasi situasi dan mengaku tidak ada dana untuk mengatasi COVID-19 hingga meminta pemerintah pusat mengambil alih penanganan COVID-19 Jakarta.

"Pura-pura peduli adalah kebohongan Anies Baswedan di tengah pandemi dan penderitaan orang banyak. Rekam jejak pembohong ini harus kita ingat sebagai bahan pertimbangan saat pemilihan nanti di 2024. Jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan pembohong. Jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan Anies Baswedan," ucapnya.

Tugu Sepatu di Kawasan Sudirman

Tugu berbentuk sepatu yang disorot Aria Bima pertama kali muncul di kawasan Sudirman, Jakarta. Tugu sepatu tersebut sempat dijelaskan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.

"Kita kan ingin mempercantik kota Jakarta di antaranya tugu sepatu, itu hasil kolaborasi. Itu tanyakan sama Jaktour detailnya," kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Kamis (16/09/2021).

"Artinya, kita menghiasi kota (Jakarta) supaya menarik, supaya juga setara dengan kota-kota di dunia lain. Kan biasa, kalian keliling dunia coba dicek di Google di tiap negara, di tiap kota kan ada produk-produk yang menarik perhatian bisa selfie di situ foto dan sebagainya, ada yang menambah pengetahuan," ujar dia.