Usai menjalankan aksi tersebut, Suroto diundang Presiden Jokowi ke Istana Presiden, Rabu (15/9/2021). Usai pertemuan, presiden berjanji untuk menurunkan harga jagung ke angka yang realistis yakni Rp4.500 per kilogram. Hampir sepekan berlalu, apa kabarnya?
 
Dikutip dari antara.com, nasih peternak ayam petelur masih sami mawon alias tak berubah. Bahlan boleh dibilang makin babak belur. Lantaran harga pakan bukannya menurun, harga telur semakin hancur.

Seperti disampaikan Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar, Sukarman bahwa nasib peternak ayam di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, semasih terpuruk. Harga telur kembali turun, sementara harga pakan masih mahal. "Hari ini harga telur ayam Rp 13.800 per kilogram dari kandang. Kemarin Rp 14.200 per kilogram," kata Sukarman, dikutip Senin (20/9/2021).

Sukarman benar. Di DKI Jakarta, harga telur ayam masih berada di level bawah. Hanya dengan duit Rp18.000, ibu-ibu sudah bisa membawa pulang sekilogram telur ayam. Biasanya, harga si lonjong sumber protein ini, dibanderol antara Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.

Informasi saja, Kabupaten Blitar merupakan salah satu penghasil telur ayam dari sentra peternakan ayam yang cukup besar. Telur-telur ini selain untuk memenuhi kebutuhan lokal, juga dikirim hingga berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jakarta. Bahkan, telur ayam asal Blitar juga sebagai salah satu penyokong kebutuhan telur nasional.

Masalah yang dialami sempat mendorong salah seorang peternak, Suroto, membentangkan poster meminta perhatian Presiden Jokowi, saat kunjungan kerja ke Blitar, Selasa (7/9). Poster itu bertuliskan, ‘Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar’.

Jokowi pun mengundang para peternak ayam petelur ke Istana Negara. Presiden menjanjikan akan menggelontor 30ribu ton jagung untuk pakan, dengan harga Rp4.500 per kg. Harga jagung tersebut sesuai peraturan Kementerian Perdagangan.

Menurut Sukarman, Harga Pokok Produksi (HPP) telur idealnya adalah Rp 20.500 per kilogram. Namun, karena harga saat ini sekitar Rp 14.000 per kilogram dari kandang, otomatis peternak mengalami kerugian sekitar Rp 6.500 per kilogram.

Kebijakan PSBB atau PPKM, juga dikeluhkan peternak ayam petelur, karena menghambat pasokan. Sebelum pandemi COVID-19, telur yang dikirim keluar Blitar bisa mencapai 450 ton. Tapi akibat pembatasan mobilitas, kini menurun drastis.

Akibatnya, saat ini, banyak peternak ayam yang gulung tikar. Dari sekitar 4.500 peternak di Kabupaten Blitar, ada sekitar 20 persen yang gulung tikar.