Ya, Arcandra yang saat ini menjabat komisaris utama PT PGN (Persero) Tbk ini, bicara soal batubara. Yang saat ini mulai ditinggalkan negara lantaran dinilai kurang ramah lingkungan.

Kali ini, Arcandra bercerita soal sulitnya meninggalkan penggunaan energi murah seperti batubara, demi mengurangi polusi. Penyebabnya adalah karena penggunaan batubara di industri saat ini masih sangat besar.

Selain pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), Arcandra juga menyebut batu bara digunakan di pabrik baja dan pabrik semen. Alasan penggunaan untuk mendapatkan sumber energi yang murah dan juga sebagai bahan baku (feedstock). "Dapat dibayangkan betapa industri di sekitar kita sangat bergantung kepada batu bara," kata dia dalam akun instagram arcanda.tahar, Minggu (19/9/2021).

Dari data yang ada, Arcandra menyebutkan, 40 persen emisi global berasal dari penggunaan batubara. Pada 2020, PLTU menyumbang 39 persen dari semua energi listrik yang dibangkitkan di dunia.

Masalah lain yaitu karena kebanyakan PLTU yang sedang beroperasi belum sampai pada tingkat pengembalian modal yang direncanakan. Lalu, butuh teknologi tambahan kalau sebagai alternatif pengganti batu bara.

Lalu seperti apa peta penggunaan batu bara saat ini di Indonesia? Dikutip dari laman resmi Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBDI), realisasi produksi batu bara nasional selalu melebihi target selama enam tahun terakhir. Kecuali pada 2017, dengan target 477 juta ton dan realisasi 461 juta ton.

Tahun 2020, produksi batu bara mencapai 562,53 juta ton atau melebihi target 550 juta ton. Sebagian besar sebenarnya diekspor yaitu 405 juta ton. Separuhnya diekspor ke Cina dan India.

Sisanya untuk kebutuhan dalam negeri atau Domestic Market Oblgation (DMO) Rp 132 juta ton. Dari 132 juta ton ini, sebagian besar digunakan untuk pembangkit listrik yaitu mencapai 105 juta ton.

Barulah sisanya untuk keperluan lain. Mulai dari metalurgi 13 juta ton, semen 6 juta ton, kertas 2 juta ton, hingga pupuk dan tekstil 1 juta ton.

Tahun 2021, target produksi batu bara mencapai 550 juta ton atau sama dengan target 2020. Hingga Februari 2021, realisasinya sudah mencapai 14,2 persen dari target tersebut atau setara 78,2 juta ton.

Target untuk ekspor yaitu 412,5 juta ton dan DMO 137,5 juta ton. Tak jauh berbeda dengan 2020, mayoritas penggunaan di dalam negeri adalah untuk listrik yaitu 113 juta ton.

Barulah sisanya untuk industri lain dengan beberapa perubahan. Salah satunya adanya penggunaan batu bara untuk industri briket 3,5 juta ton. Sementara, kebutuhan untuk industri metalurgi turun jadi 6 juta ton, semen turun jadi 1,5 juta ton, kertas naik jadi 13 juta ton. Terakhir, pupuk dan kertas turun jadi 500 ribu ton.