PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) harus menerima kekalahan dalam kasus gugatan pembayaran uang sewa pesawat dengan salah satu perusahaan penyewa pesawat (lessor) di Pengadilan Arbitrase Internasional London (London Court International Arbitration/LCIA).

Informasi tersebut disampaikan pada 6 September 2021, perseroan menerima menerima kabar bahwa LCIA telah menjatuhkan putusan arbitrase pada kasus gugatan dari Lessor Helice dan Atterisage (Goshawk) terhadap Garuda Indonesia, terkait pembayaran uang sewa (rent) pesawat.

"LCIA menjatuhkan Putusan Arbitrase yang pada intinya Perseoran diwajibkan untuk melakukan pembayaran rent atas sewa pesawat dan kewajiban-kewajiban berdasarkan perjanjian sewa pesawat, pembayaran bunga keterlambatan, serta pembayaran biaya perkara Penggugat," kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Prasetio.

Prasetio mengklaim putusan tersebut tidak berdampak langsung terhadap kegiatan operasional Garuda Indonesia. Perseroan memastikan bahwa seluruh aspek kegiatan operasional penerbangan akan tetap berlangsung dengan normal.

"Perseroan berkomitmen untuk senantiasa mengoptimalkan ketersediaan layanan penerbangan yang aman dan nyaman untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat maupun pengangkutan kargo bagi sektor perekonomian nasional," tutur Prasetio.

Terhadap putusan tersebut, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan pihaknya melakukan koordinasi dengan kuasa hukum yang telah ditunjuk untuk mempertimbangkan langkah yang dapat dilakukan oleh perseroan.

"Kami sepenuhnya akan menghormati dan menyikapi secara bijak hal-hal yang telah ditetapkan LCIA dalam kewenangannya sebagai lembaga penyelesaian sengketa arbitrase internasional," kata Irfan.

Saat ini, Garuda terus menjalin komunikasi intensif dengan Goshawk untuk menjajaki kesepakatan terbaik dalam upaya penyelesaian kewajiban usaha perseroan di luar proses hukum yang telah berlangsung.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mempertimbangkan kemungkinan penjajakan skema restrukturisasi maupun strategi alternatif penunjang lainnya.

"Kami cukup optimistis penjajakan yang kami lakukan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan terbaik bagi seluruh pihak khususnya dengan memperhatikan aspek keberlangsungan usaha di tengah tekanan kinerja industri penerbangan di masa pandemi ini," terang Irfan.

Dia menyatakan optimistis penjajakan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan terbaik bagi seluruh pihak khususnya dengan memperhatikan aspek keberlangsungan usaha di tengah tekanan kinerja industri penerbangan selama masa pandemi.

Perseroan memastikan seluruh aspek kegiatan operasional penerbangan akan tetap berlangsung dengan normal meski ada sejumlah gugatan dari pihak lessor.

"Kami sepenuhnya akan menghormati dan menyikapi secara bijak hal-hal yang telah ditetapkan LCIA dalam kewenangannya sebagai lembaga penyelesaian sengketa arbitrase internasional," pungkas Irfan.

Maskapai pelat merah ini memang diketahui beberapa kali telah menerima gugatan hukum dari beberapa lessor sejak tahun lalu, karena dinilai belum sepenuhnya menjalani kewajibannya atau dugaan wanprestasi.

Melansir cnbcindonesia, kasus ini sendiri bermula pada tanggal 27 Maret 2020, ketika salah satu lessor Garuda yaitu Helice Leasing S.A.S (Helice) mengajukan permohonan kepada Pengadilan Belanda untuk melakukan sita jaminan atas dana yang ada pada rekening perusahaan di Amsterdam dan telah dikabulkan oleh Pengadilan Belanda.

Helice juga mengajukan gugatan pokok perkara kepada perusahaan di Pengadilan London.

Akan tetapi pada tanggal 20 Januari 2021, Pengadilan London malah mengabulkan eksepsi kompetensi absolut (challenge of jurisdiction) yang diajukan Garuda dengan pertimbangan bahwa Pengadilan London tidak berwenang untuk memeriksa gugatan ini, melainkan merupakan kewenangan London Court atau LCIA.

Helice dan lessor lain yang berada dalam satu manajemen, yaitu Atterissage, kemudian mengajukan gugatan arbitrase di LCIA pada tanggal 16 Februari 2021, dan memperbaharui permohonan sita jaminan yang pernah diajukan sebelumnya.

Sampai dengan 30 Juni 2021, liabilitas garuda mencapai 12,96 miliar dolar AS atau setara dengan Rp187,92 triliun (kurs Rp14.500/dolar AS) dengan ekuitas minus 2,84 miliar dolar AS (Rp 41,18 triliun).

Liabilitas ini terdiri dari kewajiban jangka pendek sebesar 5,05 miliar dolar AS, sedangkan jangka panjang sejumlah 7,9 miliar dolar AD.

Goshawk Aviation merupakan sebuah perusahaan penyewaan pesawat yang dimiliki oleh keluarga mendiang miliarder Hong Kong Cheng Yu-tung, dengan dengan aset penerbangannya mencakup ratusan pesawat Airbus dan Boeing.

Goshawk merupakan perusahaan patungan 50-50 antara konglomerat NWS Holdings dan Chow Tai Fook Enterprises yang keduanya dikendalikan oleh keluarga Cheng.

Tidak hanya itu, Garuda Indonesia juga sempat digugat oleh Aercap di Pengadilan London terkait wanprestasi. Adapun Garuda Indonesia memiliki perjanjian sewa pesawat dengan 31 lessor.