Menteri BUMN Erick Thohir menargetkan sebesar 50 persen bahan baku obat-obatan bisa diproduksi dalam negeri. Saat ini, mayoritas setara 90 persen bahan baku obat-obatan masih impor.

"Nah, bahan baku obat ini yang salah satu ke depan kami sedang pelajari. Bisa enggak yang tadinya 90 persen (impor), paling tidak 50 persen buatan Indonesia, kami coba lakukan itu," ujarnya dalam acara BUMN Sehat dan Kuat Demi Akselerasi Kebangkitan Ekonomi di CNBC Indonesia TV, Jumat (30/7/2021).

Ia menuturkan, BUMN farmasi telah memproduksi sejumlah obat secara mandiri, meskipun bahan bakunya masih impor. Contohnya, obat generik paracetamol. Karenanya, ia mengatakan Kementerian BUMN akan mendorong peningkatan kapasitas produksi perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor farmasi. "Kami coba link and match. Kami lakukan juga bagaimana membuat terobosan sesuai dengan program bapak presiden waktu itu, hilirisasi industri," imbuhnya.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan, mendorong PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan industri petrokimia sehingga bisa menghasilkan bahan baku obat.

Tambahan produksi itu diharapkan bisa menjaga ketersediaan obat di apotek, khususnya selama pandemi covid-19. Selain itu, ia juga meminta partisipasi pihak swasta. "Sebagai catatan juga, sangat penting peran swasta mendukung ini. Sebab, yang namanya buat obat oseltamivir, favipiravir tidak hanya kami saja (produksi), swasta juga," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengutuk keras para oknum yang menimbun obat pada masa pandemi ini dimana masyarakat sangat membutuhkan obat-obatan. "Janganlah saat rakyat susah ini, penimbun-penimbun obat obat ini enggak punya akhlak. Saya harapkan mereka juga harus menjadi bagi kesatuan, sebab ini benar-benar masyarakat sedang susah," ujarnya.