Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan saat ini lebih dari 80% transaksi nasabahnya sudah dilakukan secara digital. Sedangkan transaksi menggunakan ATM saat ini terus mengalami penurunan.

Jahja menyebutkan saat ini nilai transaksi nasabah yang dilakukan di ATM tinggal 13% dari total transaksi yang terjadi.  "Iya betul ATM turun dan digital naik luar biasa. Digital sudah 80% lebih, ATM 13%," kata Jahja, dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (23/7/2021).      

Salah satu penyebab turunnya nilai transaksi yang dilakukan di ATM, kaTa dia, adalah adanya pandemi Covid-19 yang sudah terjadi sejak tahun lalu. Namun demikian, adanya ATM saat ini juga masih dibutuhkan oleh nasabah, sehingga BCA masih tetap akan melakukan penambahan jumlah ATM, terutama untuk mesin yang bisa melakukan setor dan tarik tunai.    

Sementara itu, keberadaan kantor cabang saat ini juga dinilai masih dibutuhkan bagi nasabah yang akan melakukan transaksi dalam jumlah besar. Meski menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah kantor cabang bank terus mengalami penurunan.

Bank ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp14,5 triliun di semester I-2021, atau naik 18,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp12,24 triliun.

Dalam konferensi pers virtual Kamis (22/7/2021), Jahja mengatakan performa BCA solid pada semester I-2021 di tengah pandemi COVID-19. "Kami menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, regulator atas dukungan yang luar biasa dan nasabah. Hingga Juni, beberapa sektor ekonomi mulai tumbuh, ditopang dari peningkatan KPR, pelaksanaan BCA Expoversary Maret 2021. Kami mencermati dinamika situasi PPKM yang ditetapkan pemerintah sebagai respons pengendalian Covid-19," kata Jahja yang dikenal sebagai bankir senior dari BCA ini.

Dia menjelaskan, kredit tumbuh 0,8% di Juni secara year to date (ytd), di mana segmen Korporasi dan KPR masing-masing naik 2,1% dan 3,8% ytd. Sementara itu, kredit komersial dan UKM membaik. Dari sisi pendanaan, rasio dana murah atau current account and saving account (CASA) tumbuh 8,3% ytd, sejalan dengan peningkatan nilai transaksi.

Pendapatan bunga bunga bersih tumbuh 5,8% menjadi Rp 28,27 triliun. Pendapatan non bunga turun -1,2% yoy (year on year) menjadi Rp 10,2 triliun. Dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan Jumat (23/7/2021), saham BBCA ditutup turun 1,95% di Rp 30.175/saham, dengan nilai transaksi Rp 485 miliar. Sepekan saham bank Grup Djarum ini masih turun 1,31% dan sebulan turun 2,82%.