Majelis Ulama Indonesia atau (MUI) memberikan penjelasan terkait kata muadzin yang dituliskan dilaman media sosial Twitter Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat pelaksanaan Sholat Idul Adha. Unggahan Presiden mendapat sorotan secara luas dari netizen.

Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Ni'am Sholeh mengatakan bahwa yang dimaksud Muadzin adalah orang yang menyerukan untuk memulai sholat.

"Tugasnya menyeru untuk memulai sholat dikita dikenal juga dengan istilah Bilal. Bilal itu sebenarnya kan nama orang. itu istilah yang umum dan sudah dipahami publik," kata dia kepada wartawan.

Muadzin dalam Sholat Idul adha bisa merupakan Imam atau Panitia yang menggelar Salat berjamaah. Sama halnya dengan Iman dan khatib, yang bisa orang yang sama atau berbeda.

"Imam dan khatib dalam Sholat Id bisa orang yang sama dan bisa orang yang berbeda," katanya.

Asrorun meminta masalah tersebut tidak perlu diributkan karena tidak terkait ajaran pokok agama.

Sebaiknya sekarang ini, kata dia, energi dicurahkan untuk hal besar, salah satunya penanganan COVID-19. 

"jangan habiskan energi untuk hal remeh, tidak substansial, dan narasi kebencian. Itu tidak baik," pungkasnya.

Diketahui, dalam akun twitternya, Jokowi menyebut muadzin dalam Sholat Idul adha tersebut adalah Paspampres.

"Saya melaksanakan salat Idul adha pagi ini di halaman Istana Kepresidenan Bogor dengan jamaah terbatas. Yang bertindak sebagai muazin, imam, dan khatib adalah anggota Paspampres," tulis Jokowi, melalui akun instagram @Jokowi.



Netizen atau warganet menanyakan adanya muadzin dalam Sholat Idul adha seperti yang dituliskan presiden itu. Karena dalam Sholat Idul adha, tidak ada adzan yang dikumandangkan muadzin.