Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Agus Andrianto mengatakan, pihaknya tengah menyelidik dugaan 'kartel kremasi' jenazah pasien COVID-19.

"Sedang dilidik ya. Kalau ada korbannya ikut membantu monggo silakan," kata Komjen Agus kepada wartawan, Selasa (20/07) kemarin.

Agus mempersilakan masyarakat yang dirugikan krematorium nakal untuk melaporkan ke kantor polisi terdekat. Komjen Agus menilai tangan nakal 'kartel kremasi' merupakan pengkhianat masyarakat.

"Silakan (masyarakat lapor), mari bergandengan tangan untuk membantu meringankan beban masyarakat oleh kelakuan para pengkhianat mencari keuntungan ditengah pendemi yang terjadi," katanya.

Diketahui, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea mengungkit adanya dugaan praktik 'kartel kremasi' jenazah pasien Corona.

Hotman Paris meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menindak rumah duka dan krematorium yang nakal terhadap keluarga jenazah pasien Corona.

Pernyataan Hotman ini disebabkan dirinya mengaku menerima aduan dari masyarakat terkait mahalnya biaya kremasi.

Hotman Paris mengungkap, korban bahkan harus mengeluarkan uang hingga Rp80 juta untuk pengurusan jenazah tersebut.

"Ada warga ngadu ke saya, untuk biaya peti jenazah 25 juta, transport 7,5 juta, kremasi 45 juta, lain-lain 2,5 juta. Maka keluarga si korban harus membayar 80 juta untuk kremasi. Apakah kau bisa tersenyum saat simpan uangmu di atas penderitaan, mayat keluarga orang lain," beber Hotman.