Pemerintah Malaysia menyatakan akan menghentikan penggunaan vaksin produksi China, Sinovac, untuk program vaksinasi nasional Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 di negara jiran tersebut.

Menteri Kesehatan Malaysia, Adham Baba beralasan, penghentian penggunaan Sinovac disebabkan negeri jiran itu masih memiliki jumlah pasokan vaksin lain yang cukup untuk program vaksinasi nasional.

Oleh karena itu, sambungnya, penggunaan Sinovac hanya akan dilakukan hingga suplainya habis. Adham menuturkan saat ini Malaysia semakin banyak menggunakan vaksin jenis mRNA buatan Pfizer-BioNTech.

"Bagi mereka yang belum divaksinasi, mereka akan menerima vaksin Pfizer," kata Adham seperti dilansir Reuters, dalam jumpa pers pada Kamis (15/07/2021). 

Sejauh ini diketahui, Malaysia telah mengantongi 12 juta dosis vaksin Sinovac yang cukup untuk menginokulasi 18,75 persen populasi.

Sementara itu, mengutip dari kantor berita Malaysia, Bernama, memberitakan seiring perkembangan yang terjadi, di negara Kelantan akan berhenti menggunakan Sinovac dan menggantinya dengan Pfizer pada akhir Juli ini.

Seperti dikutip dari The Star, Direktur Departemen Kesehatan Kelantan Zaini Hussin, mengatakan, "Mulai Minggu (18 Juli), semua pusat vaksinasi di Kelantan hanya akan diberikan vaksin Sinovac dosis kedua yang cukup (sesuai pasokan tersisa)."

Zaini menuturkan tidak akan ada lagi dosis pertama Sinovac yang diberikan mulai 13 Juli lalu.

Dalam penganggulangan pandemi COVID-19 di Malaysia, pemerintah negara jiran itu sebelumnya menyatakan menggunakan vaksin yang disetujui adalah Sinovac, AstraZeneca, CanSino Biologic China, dan vaksin Janssen dari Johnson & Johnson.

Malaysia juga berencana pada Jumat mendatang bakal mengumumkan keputusannya tentang apakah akan menambahkan vaksin Sinopharm China. Dengan 880.782 kasus dan 6.613 kematian sejauh ini, Malaysia memiliki salah satu tingkat infeksi per kapita tertinggi di Asia Tenggara.

Sebagai informasi, pengumuman Malaysia berhenti menggunakan Sinovac itu keluar di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia atas penularan virus corona varian-varian baru, terutama Delta.

Bukan hanya Malaysia, Thailand pun sebelumnya pada pekan ini telah menyatakan akan menggunakan vaksin AstraZeneca sebagai suntikan dosis kedua bagi mereka yang sebelumnya pada dosis pertama diinjeksi Sinovac.

Pemerintah Singapura bahkan lebih ekstrim. Mereka mengecualikan warga yang menerima suntikan vaksin Sinovac dari jumlah orang yang sudah menerima vaksinasi COVID-19 secara nasional. 

“Angka vaksinasi nasional hanya mencerminkan mereka yang divaksin di bawah program vaksinasi nasional,” kata Kementerian Kesehatan Singapura dalam pernyataan melalui surat elektronik yang dilansir Reuters, Rabu (07/07/2021).

Dijelaskan juga di dalam surat elektronik tersebut, saat ini penghitungan vaksinasi nasional hanya mencakup mereka yang divaksin dengan vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech/Cominarty.

Sementara suntikan vaksin CoronaVac buatan Sinovac bukan merupakan bagian dari program vaksinasi nasional Singapura. Negara kota itu mengatakan masih menunggu data penting dari perusahaan farmasi asal Tiongkok tersebut.

“Vaksin COVID-19 yang bukan merupakan bagian dari program vaksinasi nasional kita mungkin belum mendokumentasikan data yang cukup tentang perlindungannya terhadap infeksi COVID-19, terutama terhadap varian Delta yang saat ini beredar,” masih kata Kemenkes Singapura di surat elektroniknya tersebut.

Sementara pemerintah Indonesia memutuskan untuk menyuntikkan dosis ketiga vaksin sebagai booster bagi tenaga kesehatan (nakes) yang telah mendapatkan dua dosis Sinovac. Booster yang akan dipakai adalah produksi Moderna.

Sementara itu, seperti dilansir Antara, Pemerintah China memastikan pihaknya terus mementingkan keamanan dan efektvitas vaksin yang diproduksi perusahaan Sinovac dan Sinopharm dalam penanggulangan COVID-19. Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir bermunculan laporan-laporan yang mempertanyakan efektivitas vaksin COVID-19 buatan negara itu.

"Pihak China secara konsisten mementingkan keamanan dan efektivitas vaksin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyetujui penggunaan darurat vaksin CoronaVac yang dibuat oleh Sinovac, hal itu secara penuh membuktikan keamanan dan efektivitas CoronaVac," ujar Konselor bidang Sains dan Teknologi Kedutaan Besar China di Jakarta, Yi Fanping, Kamis (15/07/2021).

Dia menjelaskan bahwa hingga 28 Juni lalu, vaksin CoronaVac telah mendapatkan persetujuan penggunaan darurat dari 50 negara dan kawasan di dunia, sementara penyuntikan vaksin CoronaVac secara global telah mencapai 75 juta dosis.

"Data penelitian sampai sekarang menunjukkan keamanan dan kemanjuran yang tinggi CoronaVac terhadap pencegahan paparan virus SARS-CoV-2 dan pengendalan pandemi," kata Fanping.