Julukan The Queen of Ghosting yang disematkan kepada Puan Maharani dari Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BEM KM Unnes), bikin politikus PDIP Arteria Dahlan meradang.

"Saya tanyakan, paham nggak sih apa yang disampaikan? Kok dangkal sekali ya, hanya dengan mendasarkan pada beberapa fakta atau bahkan kepingan suatu fakta yang tidak utuh, tanpa terlebih dahulu melakukan penelitian, tiba-tiba melakukan kesimpulan yang seperti itu, bahkan cenderung menista, memfitnah dan menyerang kehormatan seseorang. Apalagi orang tersebut kepala lembaga tinggi negara," ujar Arteria kepada wartawan, Rabu, 7 Juli.

Dia mengaku sedih sekaligus prihatin dengan para mahasiswa yang saat ini sangat mudah melontarkan stigma, khususnya kepada ketua DPR yang juga ketua DPP PDIP Puan Maharani.

Anggota Komisi III DPR itu menuturkan, pada jamannya dulu, mahasiswa bersikap harus melalui rangkaian diskusi-diskusi yang melibatkan kegiatan riset, kajian dan uji publik.

Tidak seperti sekarang yang nilainya jauh berbeda, apalagi berlindung dibalik kata "mengkritik". Padahal sudah patut diduga itu bukan kritik tapi ada indikasi sengaja menista.

"Saya pertanyakan BEM KM Unnes kalian hidup dimana? Apa ada baca berita koran, media sosial dan lain-lain. Apa nggak terbiasa menggunakan akal sehat sedikitlah sebelum melontarkan hal-hal yang demikian? Dangkal sekali logika berpikirnya. Masak hanya karena RUU PKS yang tak kunjung disahkan, Ibu Ketua DPR dinilai tidak berparadigma kerakyatan dan tidak berpihak pada kalangan rentan," tegas Arteria.

Menurutnya, para mahasiswa tersebut harus tahu arti "mahasiswa" sesungguhnya. Minimal memiliki intelektual dan mendasarkan pendapatnya pada ilmu pengetahuan dan akal pikirnya.

"Kan malu, kok disalahkan ibu ketua DPR, harusnya kalian tahu, dalam membentuk UU itu tidak hanya tanggung jawab DPR, karena harus melibatkan persetujuan pemerintah," katanya.

"Makanya belajar dulu, ya gak usah sampai pinter deh, tapi paham aturan hukum sudah cukup sebelum komentar. Kalian pantau dong kerja-kerja legislasi di DPR kan sudah live video streaming agar tidak gagal paham," sambung Arteria.

Arteria murka dan merasa miris, para mahasiswa itu mempersoalkan UU KPK, UU Minerba, UU Omnibus Law Ciptaker yang tak kunjung disahkan. Padahal, DPR juga akan segera membahas UU tersebut.

"Kalian harus paham prosedur pembentukan peraturan perundang-undangan. Apalagi sudah disepakati sebagai RUU prioritas untuk dibahas. Jadi belajar dulu sebelum bicara. Kan memalukan, mau terlihat smart padahal mempertontonkan kebodohannya sendiri, pakai contoh RUU PKS dan RUU PRT lagi. Harusnya kalian lihat itu di prolegnas prioritas tahun 2021, banyak hal yang kalian tidak ketahui sudah kami kerjakan untuk bangsa dan negara ini tanpa sekalipun mempertontonkannya kepada publik, karena kami anggap sebagai kewajiban," ungkap Arteria.

Sebelumnya BEM KM Unnes memberikan julukan ke Ketua DPR RI Puan Maharani dengan memberi julukan The Queen of Ghosting.

Mereka menilai berbagai produk legislasi yang dihasilkan di tengah pandemi COVID-19 saat ini tak berparadigma kerakyatan dan tak berpihak pada kelompok rentan.

"(Contohnya, red) UU KPK, UU Minerba, UU Omnibus Law Ciptaker dan seterusnya, serta tidak kunjung disahkannya RUU PKS yang sebetulnya cukup mendesak dan dibutuhkan pengesahannya," demikian dikutip dari Instagram @bemkmunnes pada Rabu, 7 Juli.