Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, terus surplusnya neraca perdagangan Indonesia merupakan kabar baik bagi perekonomian dalam negeri. Namun, pihaknya mengatakan Indonesia harus tetap waspada sebab pandemi masih ada.

"Performa ini betul-betul menjanjikan dan patut diapresiasi. Namun, kita harus tetap waspada karena masih ada risiko besar yang membayangi ekonomi Indonesia dan negara lain karena pandemi," kata Kecuk, sapaan akrab Kepala BPS itu, dikutip dari kumparan, Selasa (15/6/2021).

Penularan COVID-19 di negara lain seperti India menurutnya juga akan berdampak pada ekspor Indonesia. Sebab, negara tersebut selama ini menjadi tujuan ekspor dan impor Indonesia.

Per Mei 2021, ekspor nonmigas Indonesia ke India turun tajam USD 290 juta yang berada di peringkat ketiga tertinggi. Sedangkan di peringkat pertama negara tujuan Indonesia yang ekspornya turun adalah China USD 460,1 juta dan Amerika Serikat USD 329 juta.

"Kita tahu India mengalami masalah pandemi COVID-19 dan PMI India juga cukup tajam. Kalau per April 2021 PMI (Purchasing Managers' Index) India masih 55,5, bulan ini drop menjadi 50,8. Tentunya perkembangan PMI India ini akan mempengaruhi ekspor Indonesia ke sana," lanjutnya.

Secara total, surplus neraca perdagangan bulan lalu lebih tinggi dari April 2021 USD 2,19 miliar. Surplus ini ditopang dari total ekspor Mei 2021 USD 16,6 miliar dan total impor USD 14,23 miliar.

Namun, jika dirinci secara satuan, total ekspor Mei 2021 nilainya turun 10,25 persen dibandingkan April 2021 (month to month/mtm). Sedangkan secara tahunan atau year on year (Mei 2020-Mei 2021), nilai ekspor Indonesia meningkat pesat 58,76 persen dari USD 10,45 miliar ke USD 16,6 miliar.