Bank Indonesia bakal meluncurkan rupiah digital atau Central Bank Digital Currency (CDBC). Saatnya, setidaknya ada tiga syarat yang sedang dipersiapkan.

Pertama, desain digital rupiah menjadi alat pembayaran sah. Namun, pada tahap ini masih dalam kajian.

"Tentu secara undang-undang dan praktiknya kami dan Kementerian Keuangan akan bicara desainnya. Pada waktunya, kami akan bicara saat ini masih tatanan kajian, belum waktunya. Kalau teknis sudah sering diskusi," jelas Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (14/6/2021).

Syarat kedua, yakni infrastruktur pasar uang dan sistem pembayaran, agar bisa menuangkan digital currency. Pasalnya digital currency nanti memerlukan infrastruktur pasar uang dan sistem pembayaran yang terintegrasi.

Ketiga, lanjut Perry, adalah pilihan teknologinya. Menurut Perry ada berbagai macam pilihan nantinya, apakah menggunakan blockchain, DLT (Distributed Ledger Technology), atau menggunakan stable coin.

"Ini seluruh dunia sedang mencari mana yang paling pas dijadikan rujukan. Sebab masing-masing negara tengah membahas," jelas Perry.

Pembahasan mengenai CDBC ini pun, kata Perry akan menjadi salah satu topik pembahasan pada pertemuan G20 di tahun mendatang.

"Itu salah satu yang mau kami angkat dalam pertemuan Presidensi G20 tahun depan. Bisa gak tahun depan disepakati desain DCBC, yang bisa jadi referensi berbagai bank sentral. Itu salah satu agenda," pungkas Perry.