Benar saja. Pemerintah Indonesia begitu mewaspadai inflasi Amerika Serikat (AS) yang terus meningkat. Pasalnya, hal ini akan mendorong The Fed untuk menjalankan relaksasi kebijakan, termasuk menggenjot suku bunga.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu mengakui, potensi The Fed mengerek suku bunga acuan sebagai upaya membendung inflasi AS, bukan hal mustahil. Kebijakan itu akan berdampak pada suku bunga acuan negara lain, termasuk Indonesia. "Inflasi di AS ini terus menguat dan ekspektasi inflasi ini yang kami waspadai. Ini sudah mulai menunjukkan kekhawatiran di pasar," ucap Febrio dalam diskusi online, Jakarta, Jumat (4/6/2021).

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ada potensi pengetatan kebijakan moneter (taper tantrum) oleh The Fed akibat inflasi AS. Sebab, inflasi AS saat ini sudah tembus lebih dari 4 persen.

"Belajar dari fenomena terdahulu seperti terjadinya taper tantrum pada 2013, di mana ekspektasi normalisasi kebijakan moneter AS dapat mendorong, menimbulkan spill over atau efek rambatan yaitu pembalikan arus modal dari negara-negara berkembang," ungkap Sri Mulyani.

Menurutnya, inflasi AS karena pemerintah menggelontorkan stimulus jumbo di tengah pemulihan ekonomi pasca dihantam covid-19. Diketahui, pemerintah AS menggelontorkan insentif fiskal US$1,9 triliun. Lonjakan inflasi AS pun menjadi perhatian dunia. Untuk Indonesia sendiri, Sri Mulyani menyebut inflasi di negeri Paman Sam akan mempengaruhi pergerakan surat berharga negara (SBN), pasar modal, dan pasar uang.

Sementara, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia Riza Tyas Utami mengaku tak perlu khawatir dengan potensi taper tantrum di AS. Menurutnya, kondisi pasar keuangan Indonesia berbeda dengan 2013 lalu ketika taper tantrum terjadi.

Riza menyatakan bank sentral Indonesia sudah memiliki tiga strategi intervensi (triple intervention) guna mengatasi risiko tersebut. Strategi tersebut, antara lain melakukan intervensi pasar, memiliki stabilitas sistem keuangan yang lebih tangguh, memperkuat kerja sama internasional.

Masalahnya, ketika suku bunga di negeri Paman Sam tinggi, maka investor di pasar modal atau pasar keuangan lainnya bakal menarik duitnya di Indonesia. Tentu saja mereka memilih untuk investasi di AS. Karena menjanjikan imbal hasil yang lebih gede.

Selain itu, sektor perbankan di tanah air bakal kena getahnya juga. Bisa jadi, Bank Indonesia akan merespons kenaikan FFR dengan mengerek suku bunga acuan di dalam negeri. Ujung-ujungnya, bunga kredit menjadi mahal yang tentunya berdampak kepada sektor perekonomian nasional. Nah, mumet kan.