Pergerakan saham emiten PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM pada penutupan perdagangan Bursa pada Jumat (28/5/2021), anjlok sebesar 3,25 persen ke level Rp 3.270. Apakah anjloknya saham sektor telekomunikasi milik BUMN ini akibat perombakan manajemen dan kontroversi masuknya Abdee Slank sebagai komisaris.

Analis Pasar Modal Riska Afriani membenarkan bahwa saham TLKM merosot karena perubahan manajemen yang dihelat saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

"Melihat penurunan harga saham, saya melihat ini ada pengaruh dari perombakan manajemen TLKM," kata Riska dikutip Senin, (31/5/2021).

Padahal, menurut dia, kinerja manajemen yang sebelumnya terbilang cukup baik. Malah, di tengah pandemi Covid-19, manajemen sebelumnya masih dapat mempertahankan laba bersihnya.
Sepanjang 2020, Telkom mampu membukukan laba bersih sebesar Rp 20,8 triliun.

Jumlah laba bersih tersebut tumbuh double digit sebesar 11,5 persen apabila dibandingkan dengan 2019.

Tercatat pula, total pendapatan sebesar Rp 136,46 triliun. Jumlah ini tumbuh sebesar 0,7 persen dibandingkan 2019.

"Banyak strategi-strategi direksi sebelumnya yang ingin mengembangkan digitalisasi. Ini disambut baik oleh market. Namun karena adanya perubahan manajemen, tentunya akan ada penyesuaian kembali untuk membentuk goals TLKM dalam 5 tahun ke depan," sebut Riska dikutip Kompas.com.

Terlebih lagi, anjloknya saham TLKM ini juga dipengaruhi pro dan kontra hadirnya Abdi Negara Nurdin atau biasa disapa Abdee Slank, salah satu pentolan musisi grup band Slank sebagai Komisaris.

"Terlepas dari itu, kita melihat juga adanya pro kontra dipilihnya Abdee Slank. Karena seorang Komisaris Independen memiliki peran penting dalam hal pengawasan khususnya mewakili kepentingan publik," ujar Riska.

Sebagaimana diketahui Telkom Indonesia mengangkat jajaran Komisaris dan Direksi baru dalam RUPST.

Senior Vice President Corporate Communication & Investor Relations Telkom Indonesia Ahmad Reza menyatakan manajemen perseroan menyambut positif keputusan pemegang saham mengangkat jajaran komisaris baru.

Dalam RUPST, pemegang saham mengangkat Bambang Brodjonegoro eks Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sebagai Komisaris Utama perseroan.

Selain Bambang Brodjonegoro, pemegang saham juga mengangkat Abdi Negara Nurdin atau Abdee Slank.

Meski berlatar belakang sebagai seniman, Abdee Slank selama ini juga banyak berkecimpung dalam dunia digital serta memberikan perhatian yang besar terhadap masalah hak kekayaan intelektual.

Abdee merupakan Co-Founder Importmusik.com, yakni perusahaan digital distribusi musik.

Lainnya, Abdee pernah duduk sebagai Tim Pakar penyusunan UU Hak Cipta dan Pembentukan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).