Masyarakat Indonesia semakin percaya diri bahwa perekonomian akan membaik. Itulah yang tecermin dalam survei konsumen (SK) Bank Indonesia (BI) pada April lalu. Skor indeks keyakinan konsumen (IKK) mencapai 101,5 atau masuk zona optimistis.

IKK April merupakan angka optimisme pertama Indonesia sejak pandemi Covid-19 melanda tahun lalu. Bulan lalu, skor IKK masih tercatat 93,4. Untuk bisa masuk zona optimistis, IKK harus di atas 100.

“Masih ada potensi optimisme yang berlanjut. Tapi, tentu disertai beberapa catatan,” ujar Bhima Yudhistira, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), akhir pekan lalu.

Salah satu poin yang menurut dia harus dicermati adalah faktor tunjangan hari raya (THR) yang cukup menjadi pendorong konsumsi. Faktanya, konsumsi masyarakat meningkat karena adanya tunjangan tersebut.

“Catatan lainnya adalah IKK bisa terus optimistis asalkan pembatasan sosial mulai berkurang,” ungkap Bhima dikutip Jawapos.com.

Selain itu, vaksinasi harus semakin gencar. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa capaian vaksinasi baru 7,23 persen dari 70 persen warga yang menjadi target.

Agar optimisme tetap terjaga, pemerintah perlu memanfaatkan dengan baik momentum ekspor. Saat ini, lanjut Bhima, harga beberapa komoditas seperti CPO dan batu bara cemerlang.

Sebab, negara-negara mitra dagang utama mulai masuk fase pemulihan ekonomi. Ujung-ujungnya, pendapatan masyarakat bakal terpengaruh. Khususnya di lokasi perkebunan sawit dan tambang batu bara di luar Jawa.

“Optimisme juga bisa pulih karena pemerintah konsisten memberikan dana perlinsos. Khususnya kepada 40 persen kelompok masyarakat paling bawah,” jelas Bhima. 

Jika semua itu terjaga, dia yakin bahwa IKK bisa terus berada di atas 100 pasca-Lebaran nanti.

Direktur Eksekutif-Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono memerinci, keyakinan konsumen terpantau membaik pada seluruh kategori tingkat pengeluaran responden. Juga, tingkat pendidikan dan kelompok usia responden.

Berdasar hasil survei, peningkatan optimisme konsumen pada April lalu dipicu membaiknya ekspektasi konsumen terhadap aspek ketersediaan lapangan kerja. Masyarakat juga menaruh harapan pada ekspansi kegiatan usaha yang meningkat dan penghasilan yang bertambah dalam kurun waktu enam bulan mendatang.

“Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini terpantau membaik,” kata Erwin.

Dari Surabaya, Kepala Perwakilan BI Jawa Timur (Jatim) Difi Ahmad Johansyah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi searah dengan tren nasional. Yakni, membaik. Survei konsumen mencatat indeks kondisi ekonomi (IKE) April pada angka 82,12.

Masyarakat Jatim, menurut Difi, juga lebih optimistis menghadapi kuartal II. Menurut survei, indeks ekspektasi konsumen (IEK) Jatim mencapai 128,28. Meningkat dari capaian 107,45 pada kuartal I.

“Pada awal tahun, konsumsi terganggu akibat pembatasan kegiatan. Namun, konsumen maupun pengusaha mulai optimistis dengan adanya beragam stimulus dari berbagai instansi,” paparnya.