Varian baru Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang sudah tersebar ke berbagai negara semakin mengkhawatirkan. Mengingat baru-baru ini terdapat data yang menunjukkan, bahwa yang terinfeksi varian baru adalah remaja dan anak-anak.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Aman Pulungan, SpA(K) mengingatkan bahaya mutasi virus tengah mengintai anak dan remaja.

Karena, outbreak yang terjadi di Italia, Belanda, Prancis, India, serta Malaysia, menunjukkan adanya peningkatan infeksi COVID-19 pada anak dan remaja.

Bahkan, berdasarkan data British Medical Journal (BMJ 2021: 372, n 383) Januari 2021 yang dia dapat, dijelaskan tentang jumlah anak dan remaja yang terinfeksi COVID-19 di Israel meningkat pesat, terutamanya sejak varian B.1.1.7 merebak ke berbagai negara.

"Proporsi kasus pada pasien usia di bawah 10 tahun meningkat hingga 23 persen. Bahkan Israel juga telah membuka ruang ICU khusus Covid pada anak," ujar Aman Pulungan dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Selasa (11/05/2021).

Selain di Israel, Aman Pulungan juga menyebutkan kejadian yang ada di Corzano, Italia, ditemukan sebagian besar warga yang terinfeksi COVID-19 adalah anak usia Sekolah Dasar atau lebih muda.

Bahkan di kota kecil Lasingerland, Belanda, kata Aman Pulungan, dari sekitar 818 guru, murid dan staf sekolah yang dilakukan pemeriksaaan COVID-19, ditemukan 123 kasus positif dengan 46 di antaranya merupakan varian mutasi virus baru B.1.1.7.

"Banyak kasus ditemukan juga di komunitas yang terkait dengan outbreak tersebut," imbuhnya.

Outbreak yang terjadi di sejumlah negara tersebut, lanjut Aman Pulungan, seharusnya memberikan kewaspadaan kepada pemerintah untuk tetap menjalankan kebijakan pembukaan sekolah.

"Langkah mitigasi risiko seperti implementasi sistem 'bubble', penggunaan masker, ventilasi yang baik dengan jumlah murid yang dibatasi, serta screening berkala untuk guru, murid serta staf sekolah sangat penting untuk dilakukan," bebernya.

Namun demikian, Aman Pulungan sangsi sejumlah instrumen penerapan protokol kesehatan di sekolah yang dia sebutkan itu mampu dijalankan pemerintah secara efektif, di seluruh sekolah yang diputuskan memulai proses belajar tatap muka.

"Semestinya kasus di negara lain menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk tidak membuka sekolah tatap muka (luring) jika tidak sesuai anjuran IDAI dan organisasi profesi kesehatan," ungkapnya.

"Serta bagi fasilitas pelayanan kesehatan agar mulai menyediakan ruang ICU COVID khusus anak dan remaja," pungkas Aman Pulungan.