Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji Sleman, Yogyakarta, Gus Miftah dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Amanat Agung di Penjaringan, Jakarta Utara pada Kamis (29/4) lalu.

Peristiwa tersebut ternyata masih menjadi pergunjingan. Ceramah Gus Miftah pada peresmian GBI jadi bahan perbincangan ustadz, dai, kyai hingga netizen. Mereka menganggap aksi Gus Miftah tersebut sebagai tindakan toleransi yang kebablasan. Ia pun disebut kafir dan sesat.



Mendapati kontroversi kehadirannya di GBI itu, Gus Miftah pun memberikan tanggapan di akun Instagram-nya, lewat unggahan video.

Dalam video dia menjelaskan hadir di acara GBI itu karena diundang. Dan tidak hadir sendiri melainkan bersama beberapa tokoh agama lainnya, termasuk Gubernur DKI Jakarta.



"Setelah beredarnya orasi kebangsaan di sebuah gereja di Jakarta Utara di GBI Penjaringan atas undangan panitia. Saat itu saya hadir bersama Gubernur DKI Jakarta, Mas Anies Baswedan, Sekjen PBNU Gus Helmi, dan beberapa tokoh agama lainya. Dan itu atas undangan mereka, acara yang mereka berikan ke saya pun, judulnya orasi kebangsaan dalam peresmian GBI. Bukan dalam rangka peribadatan, dicatat dalam rangka peresmian bukan dalam rangka peribadatan," paparnya.

Gus Miftah menyebut gara-gara itu banyak label yang kemudian ditempelkan ke dirinya. "Saya dihujat banyak netizen dengan mengatakan Miftah sesat, Miftah kafir, syahadatnya batal dan lain sebagainya. Gus Miftah marah? Enggak, saya bersyukur, alhamdulillah," katanya.

Ia mengaku heran dengan begitu cepatnya dilabeli sesat dan kafir, padahal selama ini dirinya cukup banyak meng-Islam orang kafir.

"Saya kemudian berpikir, orang seperti saya yang kebetulan dikasih Allah, jadi orang yang mampu membimbing sekian ratus orang untuk bersyahadat untuk jadi mualaf, hanya gara-gara video tersebut saya dikatakan kafir," bebernya.

Diapun mengaku dakwah di era ini memang tidak mudah. "Luar biasa, itulah dakwah zaman sekarang. Kalau dakwah zaman dulu tugasnya meng-Islamkan orang kafir, dakwah hari ini mengkafir-kafirkan orang Islam," tukasnya.

Gus Miftah pun membacakan dalil mengapa dirinya bisa menghadiri undangan dari pihak GBI. "Akan saya kutip keterangan dari kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqh Quwait. Kitab ini berisi ensiklopedia persoalan fiqih dari berbagai mazhab," jelasnya.

Diapun membaca keterangan dalam Bahasa Arab. Namun, dirinya memilih tidak mengartikannya dalam Bahasa Indonesia.

"Di dalam keterangan miniminal ada empat perbedaan pendapat utama tentang masuk gereja dan salat di dalamnya. Saya pikir saya enggak perlu menterjemahkan, karena para netizen terutama yang menghujat saya tentu lebih alim daripada saya, tentu anda sudah paham," ucapnya.