Ya, betul sekali. Keuangan Perum Damri menjadi berdarah-darah lantaran pemasukan susut signifikan. Pembatasan aktivitas berdampak besar terhadap operasional Damri. Ujung-ujungnya, nasib karyawan yang terbengkalai. karena mereka harus rela kerja tanpa gaji. Alias Orang Tanpa Gaji disingkat OTG.

Sekitar 300 karyawan Perum Damri menagih gaji mereka yang selama ini belum dibayar penuh. Karena hantaman pandemi Covid-19 sejak sekitar setahun terakhir, karyawan BUMN ini hanya menerima separo gaji. Bahkan selama bebeberapa bulan, ada karyawan Damri yang hanya menerima gaji Rp 750.000 per bulan. Sementara sebagian besar bulan-bulan hingga April kemarin, rata-rata mereka hanya menerima gaji Rp 1,7 juta.

Padahal saat kondisi normal, mereka bisa digaji paling sedikit Rp 3,2 juta per bulan, dan bisa meningkat sesuai golongan dan masa kerja. Penerimaan gaji tidak penuh itu sudah dialami karyawan sejak Mei 2020. Selama itu mereka masih bisa bersabar. Namun kesabaran karyawan diuji saat Lebaran yang semakin di depan mata.

Salah satu karyawan menuturkan, sebagian besar karyawan ramai-ramai menuntut hak penuh gaji mereka dibayarkan. Mereka menagih bareng-bareng kepada manajemen Perum Damri Cabang Surabaya di Kantor Jagir.

Jumlah akumulasi gaji setiap karyawan yang belum terbayar ada yang sampai Rp 20 juta lebih. "Ini mendekati Lebaran dan anak-anak akan masuk sekolah. Kapan kekurangan gaji kami dibayarkan?" kata salah sopir senior Damri, Minggu (2/5/2021).

Para karyawan Damri yang memang kebanyakan kru bus, sempat mengancam untuk mogok kerja. Mereka tidak akan mengoperasikan bus-bus umum itu jika tidak ada kejelasan pembayaran kekurangan gaji. Namun rencana mogok itu gagal setelah perwakilan Damri Pusat melalui Divre III hadir di tengah mereka. Perwakilan Damri itu lantas menjanjikan untuk menghadirkan Direksi Damri pekan ini.

General Manager Damri Cabang Surabaya, Jarnawi mengakui bahwa sekitar 300 karyawan memang tidak gajian penuh. Itu sebagai dampak dari pandemi covid-19 yang menghantam BUMN layanan moda transportasi darat ini. "Tetapi kami tidak sampai merumahkan karyawan. Dari 70 bus yang biasa beroperasi, saat ini tinggal 35 bus. Bahkan kami akui saat PPKM sangat terasa sehingga kami hanya menggaji mereka Rp 750.000 per bulan," kata Jarnawi.

Situasi sulit saat pendemi berdampak serius pada keuangan Damri. Jarnawi tetap berharap situasi ini tidak sampai mengganggu operasional bus karena harus melayani masyarakat.

Soal gaji tak penuh, Jarnawi menegaskan bahwa kekurangan itu menjadi tanggungan perusahaannya. Hak karyawan tetap akan dibayarkan, namun karyawan diminta tetap bersabar. "Kekurangan gaji akan tetap terbayarkan. Kami akan bayarkan saat situasi kembali normal. Mari kita tanggung bersama-sama. Semua karyawan kondisinya sama," kata Jarnawi.